Beranda Opini MEMAHAMI POLA RUMUS BERAGAMA

MEMAHAMI POLA RUMUS BERAGAMA

250
0

Oleh : Aziz Maulana Malik. Mahasiswa PAI Universitas Sebelas April Sumendang

OPINI, wartapriangan.com – Satu ditambah satu hasilnya pasti dua. Tak boleh sesuka hati bilang hasilnya tiga, empat, lima, ataupun angka lainnya, sebab demikian rumus matematika yang berlaku. Layaknya ber-matematika di mana terdapat rumus-rumus dalam membaca suatu soal, demikian juga beragama terdapat rumus-rumus dalam membaca soal-soal kehidupan. Sehingga beragama tak boleh hanya dengan sesuka hati saja, sebab ada rumus tuntunan beragama yang harus diperhatikan.

Misalnya salat dzuhur ketentuannya empat rakaat. Maka tak dibenarkan kalau mengerjakan dzuhur sampai sepuluh rakaat dengan alasan ingin memperbanyak pahala, sebab itu sudah menyalahi ketentuan rumus salat. Kecuali, jika melaksanakan dzuhur dua rakaat (bukan empat rakaat), maka ini masih bisa dibenarkan apabila dzuhur yang dimaksud dijamak pada waktu ashar.

Namun pemberlakuan rumus tertentu juga harus mengikuti rumusan situasi dan kondisi yang membenarkannya. Misalnya dalam jamak salat yang merupakan keringanan atas kondisi muslim yang sedang melakukan perjalanan (musafir). Sehingga kalau alasan menjamak salat hanya karena ingin malas-malasan, main game, sampai waktu salat dzuhur kelewatan dan akhirnya salat pun dijamak. Itu bukan situasi dan kondisi yang dibenarkan untuk menjamak salat.

Orang yang memahami rumus-rumus beragama, tak akan memahami agama secara kaku. Misalnya, saat ditanya hukum daging babi, tak serta merta dia menjawab haram, sebab daging babi bisa jadi mubah. Tergantung dari rumusan situasi dan kondisi yang berlaku.

Kalau yang dimaksud adalah muslim yang tersesat di hutan dan hampir mati akibat tidak makan berhari-hari. Maka daging babi bisa jadi mubah untuknya. Namun, kalau yang dimaksud adalah muslim yang menghadiri jamuan makan, maka daging babi haram untuknya. Ini berdasarkan rumus beragama “adh-dharurat tubihu al-mahzhurat (darurat itu membolehkan hal yang terlarang)”. Jadi, sesuatu yang hukum awalnya haram bisa menjadi dibolehkan, apabila dalam situasi dan kondisi darurat. Dalam contoh kasus ini adalah makan daging babi.

Contoh lain, di tengah pandemi virus Corona, semua ulama sepakat bahwa untuk mencegah penyebaran virus, maka salat dilakukan di rumah dulu. Salat lima waktu di rumah dulu. Salat tarawih di rumah dulu. Shalat Idul Fitri di rumah dulu. Rumusnya “laa dharara wa laa dhirara (tidak boleh melakukan hal yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain)”. Sebab kalau berkumpul bisa beresiko menyebarkan virus atau terkena virus, maka salat jamaah di masjid diarahkan untuk dilakukan di rumah dulu.

Namun dalam tren hijrah saat ini, banyak yang benar-benar beragama tanpa memandang rumus-rumusnya. Banyak beragama dengan sesuka hati, mengikuti nafsu pribadi dalam balutan klaim “kembali ke Qur’an dan sunnah”, sehingga sering mengabaikan arahan ulama. Yang terjadi adalah menafsir ayat Qur’an dengan sesuka hati, tanpa melihat tafsir-tafsir dalam kitab-kitab ulama. Memahami persoalan agama sesuka hati dan mengabaikan rumus-rumus beragama yang dirumuskan para ulama.

Contoh kasus, di tengan pandemi virus Corona banyak tuduhan miring pada para ulama yang menganjurkan salat wajib, tarawih, dan id dilaksanakan di rumah dulu, dan salat jum’at ditiadakan dulu. Ini dipengaruhi sebab agama dipandang sebagai suatu hukum yang kaku, sehingga ketika ulama (yang paham rumus beragama) memberikan arahan, yang terjadi adalah menuduh miring pada ulama. Padahal terdapat rumus-rumus dalam beragama yang bisa mengubah status hukum suatu hal dalam beragama.

Misal dalam kasus pelaksanaan shalat di rumah dulu, sudah sejalan dengan rumus beragama maqasid syariah. Di mana Imam Syatibi merumuskan kalau tujuan syariah (agama) adalah untuk menjaga 5 hal, yaitu: menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga nasab, dan menjaga harta. Sebab virus Corona bisa mengancam jiwa manusia, sehingga shalat yang tadinya biasa dilakukan di masjid, masih diarahkan di rumah demi menjaga keselamatan jiwa-jiwa manusia. Dan juga terdapat rumusan “laa dharara wa laa dhirara”.

Sehingga sebagai orang yang beragama, muslim harus memahami kalau terdapat rumusan dalam memahami persoalan hidup. Tak bisa beragama hanya semaunya saja. Kalau pun tak paham dengan rumus beragama, setidaknya ikuti arahan ulama sebagai orang yang paham rumus beragama. Bukan malah memberikan tuduhan yang tidak-tidak.

Selain itu, layaknya dalam rumus matematika di mana hasil 10 bukan hanya bersumber dari 5 + 5 saja. Namun, 2 + 8, 3 + 7, 4 + 6, semua bisa menghantarkan pada hasil 10. Demikian pun beragama, terdapat banyak jalan yang menghantarkan pada tujuan menjadi hamba Tuhan yang bertakwa. Jadi, kalau bertemu muslim yang beda paham tak perlu bertengkar, sebab sejatinya tujuannya sama adalah ingin menjadi hamba Tuhan yang takwa, hanya saja jalan rumusnya berbeda.

Tak perlu juga bertengkar dengan yang beda agama, sebab tujuan kita satu adalah menyembah Tuhan, hanya saja keyakinan atas Tuhan kita berbeda. Karena dunia ini adalah tempat ujian. Maka kita tak tahu pasti jawaban siapa yang benar. Sehingga, dalam beragama, fokus saja menjalankan keyakinan masing-masing dan tak perlu saling menghujat. Sebab tujuan kita satu adalah menjadi hamba Tuhan yang takwa.

“Disclaimer: Opini adalah kiriman dari penulis. Isi opini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi wartapriangan.com

Editor: Rizwan Fauzi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here