Beranda Sorot Tagar “Indonesia Terserah” Bukti Kekecewaan Masyarakat?

Tagar “Indonesia Terserah” Bukti Kekecewaan Masyarakat?

85
0
Ilustrasi gambar Indonesia terserah. (gambar: Hotgrid.Id)

NASIONAL, wartapriangan.com: Beberapa hari lalu media sosial twiiter diramaikan dengan hastag “Indonesia Terserah”. Hastag tersebut merupakan luapan kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah dalam melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Masyarakat kecewa atas kejadian antrean panjang saat penutupan McD Sarinah dan antrean penumpang di terminal 2 (dua) bandara Soekarno Hatta. Kedua peristiwa tersebut jelas melanggar protokol kesehatan pembatasan sosial berskala besar, yang justru sebelumnya amat ketat dan masif dilakukan oleh pemerintah.

Dalam hastag tersebut, terlihat beberapa tenaga medis lengkap dengan menggunakan APD menunjukkan kertas bertuliskan “Indonesia? Terserah suka-suka kalian saja”. Netizen pun membagikan postingan tersebut dengan berbagai komentar. “Kesabaran ada batasnya. Konteksnya adalah orang yang berjuang mempertaruhkan nyawa melihat yang diperjuangkan tidak peduli padanya” tulis akun @icegurlcc

Kemudian ada juga yang mengomentari dengan kata “Nyesek kalo liat tenaga medis yg udah berkorban sampe sejauh ini tapi masyarakatnya bodoamat dan nganggep biasa aja. Kaya gak ngehargain perjuangan mereka. Kalo tenaga medis udah bodo amat nasib kalian2 mau gimana? Hampir gila liat orang yg makin seenaknya” tulis akun @itsmeeyd

“Susah payah berusaha memutuskan rantai penyebaran, biar bisa cepet selesai tapi hasilnya begini. Susah emg buat menyatukan pemikiran dan ego org Indonesia yang rakyatnya bnyk, sesusah itu ya buat diem di rumah kalo gak penting” tulis akun @syachrani

Beberapa ahli mulai menanggapi peristiwa tersebut. Seperti Prof. Faturochman Guru Besar Psikologi Sosial UGM dalam wawancara kompas menjelaskan bahwa hastag Indonesia terserah, bukan merupakan tanda bahwa tenaga medis menyerah, akan tetapi itu hanyalah bentuk protes. Hastag ini justru merupakan kekhawatiran dari segi medis. Apabila pelonggaran PSBB dilakukan, dikhawatirkan peluang penyebaran virus covid-19 akan meningkat lagi.

Realitanya sejak diterapkan PSBB pun kasusnya terus meningkat, apalagi jika kebijakan tersebut dilonggarkan. Faturochman juga menjelaskan bahwa sejak awal pandemi ini menyebar, tenaga medis kekurangan APD, pengetahuan tentang covid-19, obat-obatan dan lain sebagainya. Sehingga apabila kasus terus meningkat dan terus bertambah, maka tenaga medis akan kewalahan. (16/05/2020)

Selain itu, Sosiolog dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Siti Zunariyah mengatakan bahwa topik tersebut muncul sebagai ekspresi kekecewaan para tenaga medis terhadap apa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Tenaga medis kurang mendapat pengakuan atas apa yang telah mereka lakukan.

Di sisi yang lain, topik tersebut juga merupakan protes dari masyarakat secara simbolik terhadap para pemangku kebijakan Hal ini bisa dilatarbelakangi karena pengesahan Undang- Undang Minerba, naik turunnya iuran BPJS, kebijakan yang plin-plan serta tidak terjalin komunikasi antar lembaga pemerintahan. Sehingga terkesan tidak ada keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat.

Siti Zunariyah juga mengatakan bahwa topik ini muncul berkat adanya kemajuan teknologi serta mendorong percepatan pola pikir masyarakat menjadi lebih liberal. Sehingga pada fase ini, masyarakat akan berpikiran bahwa mereka lebih berdaya menghadapi pandemic, baik dengan atau tanpa kehadiran negara. (18/05/2020).

Pewarta: Ega Prakarsa

Editor: Agil Nanggala

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here