Beranda Opini BIJAK BEREKONOMI DI MASA PANDEMI

BIJAK BEREKONOMI DI MASA PANDEMI

122
0

Oleh: Reza A. Suntara (Mahasiswa Magister PKn UPI)

OPINI, wartapriangan.com: Pada saat ini kegiatan bekerja di rumah/ work from home  sudah masuk pekan kesembilan yang berarti sudah dijalani selama dua bulan lamanya. Semenjak dilaksanakan pada pertengahan bulan Maret sebagai dampak meluasnya pandemi Covid-19, pelaksanaan kebijakan ini menjadi suatu solusi dalam upaya penekanan angka penyebaran dan upaya percepatan dalam mengatasi virus yang telah menyebar hampir ke seluruh antero dunia.

Pemberlakuan kebijakan WFH yang di dalamnya juga meliputi aktivitas lain seperti belajar serta beribadah di rumah, mengalami beragam dinamika. Masih banyak ditemukannya aktivitas sosial warga di beberapa wilayah yang belum menyadari dan menjalankan prosedur protokoler kesehatan dalam mengatasi penyebaran virus Covid-19. Hingga pada akhirnya berdampak pada pertumbuhan angka korban Covid-19 yang semakin hari semakin meningkat.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menjadi salah satu upaya lanjutan yang diinisiasi oleh pemerintah daerah dengan mendapatkan persetujuan dari Kementerian Kesehatan. PSBB mulai dilaksanakan di wilayah DKI Jakarta sejak tanggal 10 April 2020 dan pada perkembangannya kemudian diikuti oleh beberapa wilayah lain termasuk Provinsi Jawa Barat. Kebijakan ini menjadi suatu hal yang dianggap perlu untuk menekan secara masif penyebaran virus Covid-19 di daerah yang warganya telah banyak terjangkit.

Diberlakukannya kebijakan ini memberikan ketegasan yang sangat kuat pada masyarakat untuk tidak lagi menjalani aktivitas kehidupan sosial di luar rumah terkecuali untuk kegiatan yang sangat mendesak. Pelaksanaan kebijakan PSBB ini didukung pula oleh TNI dan Polri yang mulai membangun beberapa pos checkpoint dengan tujuan membatasi aktivitas masyarakat di jalan raya sehingga tidak adanya konektivitas antar wilayah yang selama ini menjadi salah satu faktor utama penyebaran virus Covid-19.

Kebijakan PSBB ini tentu saja memberikan dampak yang begitu masif bagi tatanan kehidupan masyarakat, terutama pada sektor vital seperti sektor ekonomi. Tempat-tempat yang memiliki peluang besar akan aktivitas masyarakat seperti pasar, alun-alun, hingga tempat hiburan menjadi lokasi yang tak luput dari dampak kebijakan PSBB ini. Ditutupnya beberapa kios, pembatasan waktu penjualan, hingga dikosongkannya tempat-tempat sentral yang sering menjadi sarana mencari nafkah bagi para pedagang kecil merupakan dampak yang tidak bisa terelakkan.

Pemandangan yang sangat asing akan sangat dirasakan terutama pada saat bulan Ramadhan seperti sekarang ini. Aktivitas sore hari yang biasanya diisi dengan kegiatan ngabuburit di beberapa tempat penjualan makanan pun mengalami perubahan. Bagi para pedagang musiman yang biasa berjualan makanan untuk santapan berbuka akan merasakan dampak besar dengan turunnya omzet yang sangat jauh dari perkiraan bila dibandingkan di waktu Ramadhan setahun ke belakang.  

Pun begitu bagi para pedagang yang menjual pakaian di kios-kios atau pusat perbelanjaan lainnya untuk persiapan hari Raya Lebaran, peningkatan jumlah penjualan yang seharusnya mereka rasakan terutama di hari-hari terakhir bulan Ramadhan dapat dipastikan akan mengalami penurunan angka keuntungan bahkan sampai mendapati kerugian. Dampak tersebut tentu saja membuat pusing para pelaku usaha terutama pada kelompok kecil-menengah, mengingat pentingnya stabilitas ekonomi untuk keberlangsungan kehidupan keluarganya.

Bagi mereka yang berpenghasilan besar dan telah menyiapkan dana cadangan tentu penurunan pemasukan tidak begitu memberikan pengaruh yang cukup besar. Namun bagi mereka yang berpenghasilan dengan mengandalkan usaha kecil dan terkadang kekurangan, hal ini akan sangat menjadi masalah besar yang tak bisa dihindarkan. Seperti diuraikan Abraham Maslow, sejatinya kebutuhan hidup yang paling mendasar bagi setiap manusia adalah kebutuhan fisiologis yang di dalamnya mencakup kebutuhan sandang, pangan, dan papan.

Maka dari itu bantuan sembilan bahan pokok (sembako) serta bantuan keuangan yang tengah dilaksanakan pemerintah  menjadi sebuah hal yang sangat diharapkan bagi sebagian besar masyarakat terutama yang memiliki tingkat ekonomi rendah. Hal ini tentu saja menjadi sebuah kewajaran bagi masyarakat untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah yang telah membatasi aktivitas sosial warganya.

Dari itu, ketika pemerintah memberikan kebijakan yang menuntut kerja sama masyarakat untuk tetap tinggal di rumah, maka sebagian masyarakat terdampak pun wajar untuk menuntut pemenuhan kebutuhan dasarnya dari pemerintah mengingat tak ada penghasilan yang mereka dapatkan dari hanya berdiam diri di rumah saja. Mengingat masa pandemi virus Covid-19 yang hingga saat ini belum dapat diprediksi masa akhirnya, maka perlu sekali untuk senantiasa bijaksana dalam berekonomi.

Hal ini tentu saja tidak hanya bagi mereka yang berpenghasilan menengah ke bawah, namun juga bagi mereka yang berpunya. Ketika kios-kios pasar ditutup, mall tidak lagi beroperasi, serta toko penjualan makanan dibatasi maka sebagian masyarakat akan mengalihkan aktivitas jual-belinya secara daring. Hal ini tentu saja bernilai positif sebagai langkah yang baik dalam mengatasi pembatasan penjualan bagi para pelaku usaha, namun koin selalu saja memiliki dua sisi yang berarti ada pula dampak negatif bagi pembeli bila dilakukan secara berlebihan.

Kemudahan transaksi melalui kemajuan teknologi harus pula diiringi dengan tindakan bijaksana. Pada masa pandemi seperti hari ini tentu saja kita tidak dapat berkeliling ke pusat perbelanjaan yang menyuguhkan segala yang ingin kita dapatkan. Hadirnya online shop menjadi ruang belanja baru yang lebih mudah dan terkadang lebih murah dengan beragam potongan harga yang menggiurkan. Hal ini ditambah pula dengan kemudahan transaksi melalui e-money/ uang elektronik yang hanya memerlukan beberapa kali klik.

Masa sulit seperti ini baiknya direfleksikan menjadi sebuah momentum untuk lebih berempati dan bersimpati dalam menjalani kehidupan sehari-hari, salah satunya melalui tindakan yang bijak dalam berekonomi. Bagi mereka yang masih merasa baik-baik saja ketika melakukan transaksi tanpa mempertimbangkan keinginan dan kebutuhan, alangkah bijaksananya bila lebih memandang pengeluaran hanya untuk keperluan-keperluan penting dan menyisihkan apa yang masih ada sebagai dana cadangan.

Selain itu meninggikan rasa prihatin dan welas asih dengan membantu masyarakat lain yang terkena dampak juga menjadi salah satu langkah bijak untuk mengatasi dampak pandemi dengan upaya saling berbagi. Tentu saja melalui hal ini akan menegaskan kehadiran kita di dunia sebagai makhluk sosial yang memiliki rasa peduli tinggi dengan terbantunya masyarakat yang membutuhkan oleh masyarakat lain yang berkecukupan.

Tulisan milik Reza A. Suntara , mahasiswa Magister Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Pendidikan Indonesia.

“Disclaimer: Opini adalah kiriman dari penulis. Isi opini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Wartapriangan.com.”

Editor: Dadan Rizwan /WP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here