Beranda Jurnalis Warga Kuliah Daring sebagai New Normal adalah Mimpi Buruk

Kuliah Daring sebagai New Normal adalah Mimpi Buruk

103
0
Ilustrasi perkuliahan lewat jaringan internet. Sumber Sumber Gambar: LPMMatra.com

Jurnalis-warga, wartapriangan.com: Selama pandemi ini kita dipaksa untuk melakukan kulaih daring. Kita tidak bisa berbuat apa-apa karena hanya itu pilihan yang kita punya. Kuliah dilakukan dengan berbagai macam variasi. Mulai dari diskusi via obrolan WhatsApp, mengumpulkan tugas melalui Google Classroom, sampai dengan video meeting.

Ternyata proses adaptasi tidak semudah yang dibayangkan. Beberapa dari kita pernah membuat kesalahan. Dini, teman sekelas saya, pernah menyuruh adiknya saat perkuliahan berlangsung dengan kondisi microphone menyala. Interaksi Dini dengan adiknya berlangsung cukup lama. Kondisi itu cukup untuk membuat dosen kami berusaha sekuat tenaga agar suaranya masih bisa didengarkan oleh mahasiswa alih-alih mendengar Dini. Selain itu kuliah 2 SKS bisa menjadi 4 SKS saat menggunakan obrolan WhatsApp.

Seiring berjalannya waktu, kita semakin pandai melakukan kuliah daring. Setiap mahasiswa sudah dengan mandiri mematikan microphone ketika perkuliahan dimulai dan hanya menghidupkan apabila ingin berpendapat. Bahkan telah terjadi perpecahan di beberapa kelas karena berbeda pandangan tentang aplikasi yang bagus untuk dipakai dalam perkuliahan.

Perkuliahan melalui obrolan WhatsApp juga sudah dilakukan efisien. Hal tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa sudah mampu beradaptasi dengan keadaan. Namun saat mahasiswa sudah mampu beradaptasi dengan keadaan, kita dihadapkan dengan kondisi yang mengecewakan. Tidak meratanya persebaran infrastruktur menjadi kendala utama perkuliahan dari.

Akun twitter @hurufkecil membuat utas yang berisi tangapan layar berita-berita yang cukup menggambarkan bagaimana perjuangan saudara-saudara kita dalam mengikutin perkuliahan dari. Mulai dari panjat pohon untuk mengikuti perkuliahan, sampai yang paling nahas Mahasiswa Unhas meninggal dunia akibat terjatuh dari menara masjid saat mencari jaringan internet.

Mengutip republika.co.id, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengaku kaget ketika mengetahui masih ada sejumlah daerah di Indonesia yang belum dialiri listrik, ia pun menyadari parahnya ketimpangan antar daerah di Indonesia. Artikel berjudul “Satire Halus Dua Menteri Jokowi” yang dimuat di laman pinterpolitik.com, mengendus pernyataan tersebut bisa jadi sebuah satire untuk menyindir salah satu pihak tertentu.

Terlepas benar atau tidaknya hal tersebut, kondisi seperti ini harus membuat Kementerian Komunikasi dan Informasi tergerak. Apabila berharap untuk mempercepat persebaran infrastruktur tentu sangat muluk-muluk. Namun Kemkominfo bisa setidaknya memberikan subsidi internet bagi mahasiswa sehingga mahasiswa dapat membeli provider internet dengan jaringan paling bagus di daerahnya.

Langkah ini sudah dilakukan oleh beberapa kampus tertentu. Universitas Pendidikan Indonesia contohnya, memberikan subsidi sebesar Rp. 100.00 tiap bulannya untuk mahasiswa membeli kuota internet. Berbeda dengan UPI, Institut Teknologi Bandung memliki cara yang berbeda. Mengutip kompas.com, ITB melakukan kerja sama dengan provider telekomunikasi di antaranya PT. XL Axiata, tbk., PT. Indosat Ooredoo, dan PT. Telkomsel berupa pemberian akses gratis modul kuliah e-learning untuk mahasiswa ITB.

Langkah-langkah tersebut bisa ditiru oleh Kemkominfo untuk diterapkan secara  nasional. Tentu bukanlah perkara yang mudah, tapi tetap harus dilakukan. Mungkin dana yang dikeluarkan tidak sedikit, tapi itu lebih bermanfaat daripada sibuk bertengkar dengan situs dewasa.

Penulis: Farent Bonatama Sagala

Editor: Rizwan/WP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here