Beranda Opini Anak Didik Stres, Bukti Guru Tidak Bisa digantikan dengan Teknologi

Anak Didik Stres, Bukti Guru Tidak Bisa digantikan dengan Teknologi

858
0
Keceriaan siswa akan maksimal dengan hadirnya Guru di ruang kelas

Oleh: Restu Adi Nugraha. Mahasiswa PKn Pascasarjana UPI

OPINI, wartapriangan.com: Sudah hampir dua bulan wabah virus corona (Covid-19) menyebar di Indonesia. Sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama yang menjangkit warga negara Indonesia di Kota Depok, Jawa Barat, wabah Covid-19 terus menyebar dengan cepat. Hingga saat ini, per tanggal 29/04/2020 tercatat 9,771 kasus positif Covid-19 dengan tingkat penyebaran tertinggi pada wilayah Jabodetabek, angka yang cukup besar dan tentu hal ini dapat dicegah dengan kerja sama dan kedisiplinan warga dalam menanggapi kasus serius ini.

Penerapan kebijakan PSBB pun menjadi alternatif pemerintah dalam menangani Covid-19, sudah sekitar 2 minggu kebijakan ini diterapkan, salah satu kebijakan PSBB ialah meliburkan kegiatan belajar dan pembelajaran di sekolah. Implementasi kebijakan pendidikan mengenai PSBB membuat peserta didik belajar di rumah, kebijakan ini berlaku untuk seluruh tingkatan pendidikan TK, SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi,

Sejak kebijakan ini diberlakukan bahkan sebelum PSBB, sistem pendidikan di Indonesia telah mengalami banyak perubahan, dari pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh atau daring (dalam jaringan). Pada kegiatan belajar dan pembelajaran ini hampir seluruh Sekolah dan Perguruan Tinggi di Indonesia telah melakukan pembelajaran jarak jauh dengan perangkat yang beragam, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membuat terobosan program seperti Belajar di Rumah yang disiarkan TVRI untuk menunjang proses pembelajaran jarak jauh.

Jika melihat kebutuhan peserta didik, pada saat inisudah tidak banyak yang menonton TV dan lebih sering menggunakan smartphone nya dibanding menonton TV, tentu program Kemendikbud ini tanpa alasan, hal ini mengantisipasi keterbatasan akses jaringan internet dan perangkat penunjang proses pembelajaran jarak jauh.

Pada proses belajar dan pembelajaran, harus menggunakan metode pembelajaran agar mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Seorang ahli bernama Bell-Gredler tahun 1981, mengatakan bahwa “belajar adalah proses yang dilakukan manusia untuk mendapatkan kemampuan, keterampilan dan sikap secara bertahap dan berkelanjutan”.

Belajar pada hakikatnya ialah terjadinya suatu perubahan pada setiap individu dari mulai kognitif (kemampuan berfikir), sikap dan nilai hingga keterampilan. Berbeda dengan pembelajaran ialah kegiatan belajar yang disiapkan dan sistematis untuk meningkatkan kualitas belajar peserta didik, pembelajaran dalam konteks pendidikan formal merupakan proses belajar secara sistematis di lingkungan sekolah, tentu dalam proses ini pendidik memerlukan metode untuk mentransfer bahan ajar kepada peserta didik.

Prakteknya, seorang pendidik memiliki kompetensi seperti bagaimana menentukan metode yang digunakan, pendekatan, seni dalam mengajar hingga psikologi pendidikan dalam menunjang pembelajaran, kemungkinan kecil terjadi ketika sistem pembelajaran jarak jauh diterapkan, interaksi sosial, seni dalam mengajar, hingga memahami setiap individu sulit untuk diterapkan.

Bahkan, metode pembelajaran tren pada saat ini seperti pembelajaran e-learning, tidak sepenuhnya pembelajaran jarak jauh, metode blended learning memadukan antara pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran online yang bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik sesuai kemampuan masing-masing agar tidak bosan dalam mencapai tujuan pendidikan.

Kehadiran Revolusi 4.0 merubah kehidupan mengarah kepada teknologi dan digital, erbagai unit pekerjaan diciptakan dengan mengandalkan teknologi dan berteknologi. Hal ini membuat berkurangnya tenaga kerja dibandingkan dengan 10-20 tahun lalu. Perubahan revolusi teknologi terus berkembang dan akan terus mengalami perubahan dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan, meskipun potensi pada revolusi 4.0 ini mengarah kepada dampak positif dari teknologi kepada pertumbuhan ekonomi, namun dampak negatif revolusi ini juga mengarah kepada tenaga kerja yang tergantikan oleh teknologi.

Pada tahun 1931, John Maynard Keynes menemukan perangkat teknologi baru untuk menunjang perekonomian namun kekhawatiran terjadi ketika tenaga kerja akan tergantikan oleh teknologi itu sendiri. Kemudian, penulis teknologi dan budaya Nicholas Carr menyatakan bahwa semakin banyak waktu yang kita habiskan terbenam dalam perairan digital, kemampuan kognitif kita semakin dangkal,  otak kita yang dilibatkan oleh semua instrumen digital yang menghubungkan kita selama 24 jam, berisiko menjadi mesin gerak abadi yang menempatkan kita dalam kegilaan yang tak henti-hentinya.

Faktanya, Revolusi 4.0 berdampak pada bidang ekonomi, sosial, budaya, termasuk bidang pendidikan. Perubahan pada sistem pendidikan dan media pembelajaran, pendidik sebagai pembina dan pembimbing peserta didik memiliki peran penting dalam menunjang perkembangan belajar peserta didik itu sendiri.

Terdapat beberapa faktor penting dalam menunjang kegiatan belajar dan pembelajaran, faktor internal seperti motivasi belajar, rasa percaya diri hingga cita-cita peserta didik menjadi faktor internal dalam menunjang pembelajaran, selain itu faktor eksternal pun menjadi hal yang utama dalam menunjang kegiatan belajar dan pembelajaran seperti kurikulum, lingkungan sekolah, kompetensi pendidik, hingga bagaimana pendidik mampu memahami perbedaan individu masing-masing peserta didik, tentunya hal ini tidak bisa digantikan oleh teknologi apapun.

Peran pendidik tidak bisa digantikan oleh teknologi apapun, peran pendidik sebagai pembina dan pembimbing belajar peserta didik bukan hanya mentransfer ilmu dan pengetahuan semata, melainkan mendidik dengan sikap, moral dan karakter kepada peserta didik dapat menunjang pembelajaran di kelas. Selain itu, seni dalam mengajar, interaksi sosial dan bagaimana pendidik memahami setiap individu peserta didik menjadi penunjang utama dalam kegiatan belajar dan pembelajaran.

Pada konteks ini, pembelajaran jarak jauh nyatanya membuat interaksi sosial antara pendidik dengan peserta didik, maupun antar peserta didik dalam kegiatan pembelajaran menjadi tidak tercapai dengan maksimal. Karena sejatinya, esensi pendidikan bukan hanya mengenai aspek kognitif dalam artian mentransfer ilmu dan pengetahuan saja, namun afektif (sikap) serta psikomotor (keterampilan) perlu adanya bimbingan oleh pendidik agar tercapai tujuan pendidikan yang diharapkan.

Editor: Rizwan/WP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here