Home Jurnalis Warga Corona dan Tantangan Orang Tua

Corona dan Tantangan Orang Tua

282
0
Pelajar pakai masker untuk menjaga diri dari virus Corona

OPINI, wartapriangan.com: Corona Virus Disease-2019 (Covid-19) sudah menjangkit berbagai belahan negara, tak tanggung-tanggung wabahnya memakan korban ribuan orang di berbagai negara di dunia, berdasarkan data yang dirilis Jhon Hopkins University & Hospital tingkat kematiannya sampai pada saat ini sebanyak 7330 jiwa. Indonesia dan dunia, saat ini sedang berada pada kecemasan dalam menghadapi serangan virus yang statusnya telah pandemic berdasarkan keputusan Direktur Jendral Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Jika melihat sebarannya tidak main-main, virus ini membersamai dalam interaksi sosial. Bisa dikatakan menyebarnya virus ini karena adanya kontak sosial secara langsung antara orang yang sudah positif virus dengan orang yang netral dari virus, pola ini berantai dalam tatanan sosial masyarakat yang saling berinteraksi. Sebagai zoon politicon, kehidupan kita tidak lepas dari interaksi antar individu dengan individu, bahkan dengan lingkungan sosial. Seperti budaya jual beli dengan menggunakan uang fisik yang rentan menyebarkan virus.

Kebiasaan lain pada budaya Indonesia adalah refleks bersalam-salaman pada saat berpapasan dengan orang, padahal itu menjadi media yang mudah untuk menularkan virus. Pertemuan antar orang di bis kota, menyentuh tombol lift, memegang handle pintu kantor, atau pingerprint merupakan perilaku yang tidak bisa di hindari oleh masyarakat urban. Melihat mayoritas masyarakat kita hidup di antara hubungan sosialnya yang tinggi maka perlunya sebuah kewaspadaan dalam berinteraksi juga saling memaklumi pada saat berinteraksi.

Kejadian luar biasa ini perlu diantisipasi secara bersama, tidak panik tetapi perlu mengambil sikap yang bijak untuk keselamatan warga negara. Berbagai upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah, baik penanganan khusus bagi orang yang suspect corona, maupun penanggulangan preventif dengan cara meliburkan berbagai kegiatan masa atau menutup penerbangan ke beberapa negara yang sudah terkena pandemic.

Selain itu terdapat langkah berupa karantina masal selama dua pekan bagi orang yang sudah bepergian dari tempat yang terkena suspect seperti yang dilakukan di Natuna dan Pulau Sebaru Kecil. Bahkan dianjurkan pula agar masyarakat melakukan self carantina selama kejadian ini berlangsung. Self carantina menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan oleh semua orang untuk menjaga jarak sosial, meskipun berdasarkan berita yang di rilis oleh Themercury.com, (2020) para ahli kesehatan dunia menyatakan bahwa social distancing saja tidak cukup.

Meski demikian, kembali ke rumah merupakan langkah preventif guna meminimalisir penyebaran virus tersebut, karena dengan berada di lingkungan yang lebih besar kita tidak akan mengenali orang yang sudah terinfeksi virus dalam kumpulan masa. Kita juga tidak mengenali siapa di antara mereka yang telah melakukan kontak langsung dengan orang yang sudah terinfeksi. Setidaknya berada di rumah, kontak sosial yang dilakukan dapat terlokalisir dengan mudah.

Keberadaan rumah yang hanya di huni oleh beberapa orang dapat memberikan efek baik dalam pencegahan Covid-19. Selain untuk menekan sebaran virus aktivitas di rumah dapat menurunkan tingkat kecemasan masyarakat. Sebetulnya kecemasan merupakan sifat alamiah manusia, seperti kata Heidegger, (1962) dalam buku termasyhurnya Being and Time dikatakan bahwa setiap kehidupan manusia di bumi akan selalu dihadapkan kecemasan (anxiety) yang tak berujung.

Jika melihat keberadaan virus ini kita dihadapkan pula pada kecemasan secara individu dan kelompok. Hanya saja rasa cemas dalam menghadapi virus ini memberikan kita pelajaran yang cukup berharga, mulai dari kewaspadaan, kesehatan, juga kebersihan. Disisi lain, tentu kita dipaksakan untuk kembali ke rumah masing-masing, melakukan aktivitas bersama keluarga dalam lingkungan rumah.

Membangun eratnya hubungan emosional antar keluarga, serta melakukan aktivitas berharga. Bagi pekerja kantoran mungkin tidak ada salahnya untuk melakukan working from home karena bekerja dapat di mana saja asalkan produktif. Tidak ada salahnya juga anak melakukan belajar di rumah (secara informal) karena prinsip belajar bisa di mana saja dan kapan saja.

Tantangan orang tua

Seperti penryataan Coombs, (1973) dalam literaturnya Should one develop nonformal education bahwa semua orang dapat belajar dimana saja ketika tujuan belajar dapat dicapai dengan baik dan maksimal. Sebetulnya tidak ada batasan setiap orang memilih akan belajar di rumah atau di sekolah. Hanya saja, semua baru tersadar ketika kejadian luar biasa mengancam seluruh aktivitas sosial masyarakat termasuk persekolahan. Disisi lain kita juga ingin melihat seberapa produktif pembelajaran di rumah saat pertemuan di sekolah diliburkan.

Tentu merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi setiap orang tua untuk melakukan pendidikan. Terkadang orang tua hanya dapat menuntut kepada guru ketika anaknya di titipkan di sekolah agar mencapai nilai yang maksimal, tetapi saat ini orang tua harus berperilaku juga seperti guru untuk memberikan wawasan pendidikan. Orang tua mendapatkan kesempatan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah di rancang oleh guru dan sekolah, juga perlu mengerti dalam memberikan materi-materi pelajaran sekolah ketika anak belajar di rumah.

Saat ini kebijakan pemerintah pusat dan daerah telah banyak menyepakati untuk meliburkan sekolah dan universitas selama dua pekan. Selama situasi ini berlangsung pendidikan ala rumahan, dan pendidikan alternatif mendapatkan tantangan cukup besar. Pendidikan informal (dalam hal ini orang tua) perlu menunjukkan usaha yang konkret untuk mengejar capaian pembelajaran minimal selama dua pekan kedepan.

Perlunya kolaborasi yang epic (hebat sekali) antara sekolah, guru, dan orang tua, artinya guru dan sekolah tidak lantas lepas tanggung jawab memberikan wewenangnya kepada orang tua. Perlu juga pemantauan bahwa anak betul mendapatkan proses pembelajaran dari orang tuanya. Disisi lain orang tua juga jangan sampai permisif dalam menyikapi tantangan ini, seperti membiarkan sendiri mempelajari dan mengerjakan tugas, atau bahkan membiarkan anak berkeliaran di luar untuk bermain.

Tentu dua pekan yang diberikan sekolah bukanlah waktu  untuk berlibur, akan tetapi digunakan oleh orang tua dan anak membangun kedekatan emosional, trust, dan proses pendidikan. Ketika hal ini terjadi maka pendidikan ala rumahan (informal) dapat dikatakan berhasil. Maka perlu juga di pertimbangkan lebih lanjut tentang konsep pendidikan alternatif dan pendidikan dalam keluarga yang selama ini bergerak hanya untuk disadvantage people, kini pendidikan dalam keluarga dapat memenuhi tujuan dan capaian pendidikan untuk semua orang.

Penulis: Moh. Fikri Tanzil Mutaqin (Volunteer)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here