Home Jurnalis Warga Mengenal Lebih Dekat “Beauty Privilage” di Kalangan Milenial

Mengenal Lebih Dekat “Beauty Privilage” di Kalangan Milenial

367
0
Mahasiswi S1 Departemen Pendidikan Kewarganegaraan UPI

SAAT ini kita hidup di era revolusi industri, dimana teknologi sudah maju dan berkembang pesat ke arah zaman modern. Tapi sayangnya, pemikiran kuno masih banyak berkembang dimasyarakat. Masih banyak masyarakat menilai seseorang dari fisiknya tanpa melihat kepribadiannya. Padahal sejatinya, bentuk wajah dan rupa seseorang adalah anugrah dari Tuhan sang Maha Pencipta.

Beauty privilege merupakan salah satu istilah sangat menarik untuk dibahas akhir-akhir ini. Tapi apakah khalayak sudah tau sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan beauty privilege?  Mungkin ada beberapa orang yang belum tau. Beauty merupakan bahasa inggris yang memiliki arti cantik atau menawan. Sedangkan  privilege adalah hak Istimewa. Hak istimewa adalah hal yang didapat berbeda dan dikhususkan untuk mereka yang memiliki keistimewaan.

Beauty Pivilege adalah hak istimewa manusia yang diperoleh karena kecantikan/ketampanannya sejak lahir hingga dewasa yang cukup mempengaruhi karier dan pandangan orang lain terhadap mereka.

Beauty Privilege bisa kalian temui dimana-mana, mulai dari lingkungan rumah, sekolah/kampus, bahkan di lingkungan kerja. Untuk di lingkungan kampus sendiri aku punya sedikit pengalaman pribadi. Jujur ya, aku sih bukan seseorang yang mempunyai Beauty Privilege. Saat ini aku punya banyak temen yang yang mempunyai Beauty Previlege.

Kadang aku masih berfikiran dangkal bahwa cantik adalah segalanya, bahkan parahnya sampe pernah ngalamin insecurity gara-gara hal ini. Aku selalu ngerasa bahwa mereka yang mempunyai Beauty Privilege adalah orang yang lebih beruntung dari aku. Tapi, untungnya itu ga berlangsung lama, karena aku sadar bahwa hidup terlalu indah untuk sebuah kata Insecurity.

Ngomongin masalah beauty privilege, kita memang gak bisa menyangkal sebuah fakta bahwa orang-orang yang memiliki rupa menawan bisa mendapat perlakuan yang berbeda. Contohnya saja, mungkin kalian tau bahwa ada seorang wanita cantik yang “berjualan tahu” hingga viral di social media baik itu instagram ataupun twitter. atau saat kasus narkoba yang menyeret nama Jefri Nichole, yang masih tetap membuat Jefri memiliki banyak orang yang mendukungnya dari pada nyiyir atau menghujat dirinya.

Well, melihat contoh 2 fenomena diatas, saya semakin yakin bahwa beauty privilege is real. Padahal ya jika dipikir-pikir coba deh kalian bayangin, gimana kalo yang “jualan tahunya” hanya perempuan biasa? Apa akan tetap se-viral itu? atau saat yang terkena kasus narkoba nya orang biasa? Apa masih ada orang yang akan ngasih support sebanyak itu?  take a think deh coba!.

Peran Beauty privilege di era 4.0 ini meningkat signifikan. Hal ini terlihat jelas dengan membludaknya produk kecantikan. Fakta lain yang cukup mengerikan adalah banyak sekali wanita/pria melakukan operasi agar terlihat cantik/tampan. Atau,bahkan mengedit fotonya dengan melakukan perubahan yang signifikan untuk menutupi kekurangannya.

Perkembangan media social yang cukup pesat pun membuat Millenials memiliki tekanan sosial yg lebih sulit, dimana penilaian tidak hanya datang dari dunia nyata saja melainkan juga dari dunia maya/ social media. Social media menjadi alasan yang cukup kuat bagi manusia untuk memiliki beauty privilege, karena tak bisa kita pungkiri, setiap kita membuka social media, kita akan di suguhkan dengan ratusan foto selegram yang cantik/tampan yang tak jarang setelah melihat postingannya akan membuat kita insecure.

Untuk kalian yang mempunyai beauty privilege , akui saja bahwa kalian memiliki privileged, (cause this is okey, really really okay and no problem).  Bersyukurlah atas apa yang telah Tuhan berikan pada kalian dan tetaplah menjadi pribadi yang baik, jangan menjadi pribadi yang arrogant, merasa lebih superior, atau bahkan parahnya  tergila gila pada eksistensi, termakan oleh ekspektasi orang lain, dan merendahkan orang lain.

Dalam Journal of Business and Psychology, pun dijelaskan bahwamemiliki wajah yang menawan tidak cukup, karena perusahaan lebih menyukai seseorang yang memiliki daya tarik, bukan cuma dilihat dari wajahnya saja. Tetapi juga melihat beberapa aspek lain, seperti cara berpakaian, pintar, dan berkepribadian baik.

Untuk kalian yang tidak mempunyai Beauty Privilege stop berfikir Insecure. Karena pada dasarnya Tuhan telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya rupa. Saya tahu, bahwa Beauty privilege memang terlihat cukup menjanjikan, namun pada akhirnya kecantikan akan pudar seiiring berjalannya waktu. Lain halnya dengan personality dan inner beauty yang akan bertahan sampai tua nanti.

Oleh karenanya, teruslah gali potensi-potensi yang kalian miliki, karena banyak orang diluar sana yang bahkan tidak mempunyai Beauty Privilege tetapi bisa sukses dengan mengandalkan kemampuan dan potensi yang mereka miliki. So, stop compairing! Stop Insecure! Cause life must go on.

Penulis : Siti Zahra Rahmadini

Editor : Rizwan / WP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here