Home Priangan Peran Mahasiswa Dalam Mengawal Kebudayaan Kota Banjar, Ini Ungkap Presma BEM STISIP...

Peran Mahasiswa Dalam Mengawal Kebudayaan Kota Banjar, Ini Ungkap Presma BEM STISIP BP

366
0
Foto Istimewa : Kresty Amelania Putri Presiden BEM STISIP BP Banjar (Kedua dari Kanan)

BANJARWartapriangan.com-Mahasiswa tidak hanya berbicara dalam tataran akademis. Tapi juga berbicara tentang bagaimana mengontrol permasalahan-permasalahan sosial. Termasuk dalam masalah melestarikan produk-produk kebudayaan yang begitu kaya dimiliki Kota Banjar.

Setidaknya itu yang di ungkapkan Kresty Amelania Putri, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STISI Bina Putera Kota Banjar saat menghadiri kajian rutin Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (HMP-IP) STISIP Bina Putera Kota Banjar yang digelarr di Taman PUSDAI Kota Banjar, Rabu(26/02/2020) kemarin.

Mahasiswa sebagai “agen sosial of change” mempunyai tanggung jawab moral terhadap apa yang terjadi pada tanah airnya. Oleh karena itu, dalam stratifikasi sosial mahasiswa di tempatkan dalam golongan middle class yang notabene adalah penyambung lidah masyarakat.

“Mahasiswa mengemban tugas dalam mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah yang mungkin saja tidak sesuai dengan kondisi masyarakat pada umumnya di Indonesia,” Ucapnya

Promosi potensi daerah lewat identitas Seni dan Budaya sedang menjadi ’trend’. Selain didorong oleh upaya peningkatan kapasitas pariwisata, semangat tersebut juga dipengaruhi banyak kasus klaim, semisal Reog diakui milik Malaysia, Tempe diserebot Jepang, motif Perak diincar Amerika, dan banyak kasus lain.

“Upaya upaya preventif harus secepatnya dilakukan agar Kota Banjar mempunyai identitas yang sepesifik”, tegasnya

Menurutnya Identifikasi kemudian menjadi penting dilakukan. Karena di dalamnya terdapat proses pencarian nilai yang tepat dan representatif bagi Kota Banjar.

Melihat kecenderungan saat ini yang lebih menitikberatkan pada basis material sebagai acuan dalam proses pendefinisian identitas daerah, alangkah tidak bijaknya pemerintah jika kemudian tergesa menetapkan satu jenis budaya atau kesenian sebagai identitas daerah. Terlebih identitas yang ingin ditampilkan menyangkut komunitas masyarakat yang lebih besar.

“Dalam hal ini pemerintah diharapkan mampu lebih akomodatif terhadap keragaman budaya yang berkembang di masyarakat. Sehingga proses legitimasi kesenian sebagai identitas daerah tidak menunjuk pada wujud fisik saja, tetapi lebih kepada nilai-nilai representatif sebelum akhirnya membuat batasan definitif tentang bentuk kesenian yang dapat menjadi identitas bagi Kota Banjar,” ujarnya

foto : Foto bersama peserta diskusi HMP-IP BP Banjar usai kegitan

Dengan demikian penghargaan atas pluralitas dibidang seni budaya itu akan semakin nyata, tanpa mengabaikan penghargaan setinggi-tingginya pada semangat kreatif yang pasti muncul di wilayah sub kultur atau sub village.

Disoal tentang peran mahasiswa dalam mengawal kebudayaan Kota Banjar, Kresty mengungkapkan bahwa semua orang mengetahui bahwa kebudayaan segala kekayaan yang dimiliki oleh Kota Banjar halnya berbentuk material (fizikal/ lahiriah) atau spiritual (non-fizikal/ batiniah/ rohani) dan oleh karena itulah kebudayaan itu tidak terlepas dari tiga elemen penting yaitu gagasan, alasan dan pengucapan.

Ia menegaskan  pertama, mahasiswa sebagai kaum akademis mempunyai peranan bagaimana memfilter kebudayaan-kebudayaan asing yang masuk kedalam masyarakat  terutama kaum muda yang dalam kenyataannya lebih cepat dapat terpengaruh oleh kebudayaan-kebudayaan asing yang masuk kedalam gaya hidupnya. 

Kedua, mendesak pemerintah untuk lebih koorperatif terhadap budayawan-budayawan yang mana mereka lebih akrab dengan hal tersebut. Itu bertujuan agar pemerintah sebagai pemegang kebijakan agar lebih teliti dalam mengaja kebudayaan-kebudayaan Kota Banjar dengan lebih memerhatikannya dan tidak bertindak pasif. Baik itu dengan membuat dokumentasi budaya-budaya Indonesia, maupun undang-undang yang tegas mengatur permasalahan tersebut. 

Ketiga, melakukan sosialisasi akan pentingnya menjaga kebudayaan yang merupakan harta bagi bangsa ini. Maka disini perlu adanya kesjasama dengan media massa dalam hal itu karena keefektifan media massa dalam mengadvokasi masyarat

Peranan mahasiswa dalam mengawal kebudayaan lokal ini tentunya tidak akan berhasil tanpa adanya kesadaran pada masyarakat pada umumnya. Kebudayaan yang dimiliki Kota Banjar ialah sebagai identitas bagi masyarakat Kota Banjar.

“Siapa lagi yang melestarikan kebudayaan Kota Banjar jika bukan oleh warga Banjar itu sendiri. Oleh karena itu mari kita sebagai anak bangsa mempunyai tanggung jawab moral untuk menjaga “harta” ini dengan cara melestarikannya.” Pungkasnya. (Yos)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here