Home Bandung Raya SMAN 1 Parongpong Gelar Mieling Poe Basa Sunda Sadunia

SMAN 1 Parongpong Gelar Mieling Poe Basa Sunda Sadunia

540
0
Foto Istimewa : Pagelaran Seni Tari Siswa SMA Negeri 1 Parongpong

BANDUNG BARATwartapriangan.com: Hari Bahasa Ibu Internasional diperingati setiap tanggal 21 Februari. Sejak ditetapkan menjadi Hari Bahasa Ibu Internasional, selalu ada event yang diselenggarakan untuk mempromosikan perdamaian, kesadaran linguistik, keanekaragaman budaya dan multibahasa.

Dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu Sedunia, SMAN 1 Parongpong mengadakan kegiatan ”Mieling Poe Basa Indung Sadunia” pada hari Kamis, 27 Februari 2020, di SMA Negeri 1 Parongpong, Jl. Cihanjuang No.39, Kec. Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Kegiatan ini diisi oleh rangkaian acara seminar dan penampilan kesenian sunda di SMAN 1 Parongpong. Kegiatan ini dibuka dengan sambutan yang diberikan oleh Ibu Yessi Hermawati selaku ketua pelaksana dari kegiatan ini.

“Tujuan diadakannya kegiatan Mieling Poe Basa Indung Sadunia sebagai upaya untuk memerdekakaan siswa/I dalam belajar Bahasa Sunda melalui pengalaman langsung, mengapresiasi sastra sunda dan menumbuhkan karakter Bahasa sunda untuk meningkatkan derajat bangsa” Tukas Yessi

Selepas sambutan yang diberikan oleh ketua pelaksana, sambutan dilanjutkan oleh Drs, Arifin Djamhur, S.S. selaku kepala sekolah dari SMAN 1 Parongpong. Arifin menyayangkan karena penggunaan bahasa Sunda saat ini sudah jarang ditemukan, oleh karena itu beliau mendukung kegiatan “Mieling Poe Basa Indung Sedunia.”

“Kondisi hari ini penggunaan Bahasa Sunda sudah jarang digunakan. Beliau sangat mendukung acara karena dengan adanya kegiatan “Mieling Basa Sunda Sadunia” diharapkan bisa menjaga dan bias “kariksa” Bahasa Sunda sampai akhir hayat.” Ujar Arifin.

Sementara itu, Entis Sutisna selaku Wakasek Kesiswaan menambahkan “Acara ini adalah acara yang ke 2 diadakan oleh SMAN 1 Paronpong. Acara ini berasal dari siswa untuk siswa. Semoga kedepannya baik acara maupun Bahasa Sunda bisa lebih baik lagi.”

Acara dilanjutkan dengan pelaksanaan upacara adat sunda dan dibukanya diskusi mengenai penggunaan bahasa sunda yang dipimpin oleh Enjang S, S.Pd. selaku moderator

Pemateri memaparkan data bahwa periode tahun 1991-2017 bahasa daerah berjumlah 619 dari 746 yang berarti setiap tahunnya satu per satu Bahasa Daerah di Indonesia punah. Berdasarkan data UNESCO, dari 6000 Bahasa daerah yang ada di dunia, 12% nya ada di Indonesia.

Sistem kurikulum pendidikan kita pun mendukung adanya muatan lokal, khususnya di Jawa Barat terdapat muatan kearifan lokal yang sifatnya wajib. Muatan lokal tersebut yaitu Bahasa Sunda, Melayu Betawi, dan Darmayu Cirebon. Kurikulum ini pun merupakan salah satu langkah untuk melestarikan Bahasa Daerah.

Menurut Deni, modal Bahasa Sunda sekarang hanya berada di 3 ruang yaitu, “dina ngimpi, dina ngambek, dan pupujieun”. Untuk menjaga dan melestarikan Bahasa Sunda tutur Deni harus dilakukan beberapa upaya yang dekat kehidupan sehari-hari.

“Selama 1 minggu di media social baik dalam update status dan berkomentar harus menggunakan Bahasa Sunda; Selama 1 minggu harus puasa Bahasa apapun kecuali Bahasa Sunda; Harus percaya diri menggunakan Bahasa Sunda.” tegasnya

Sementara itu, Dedi Warsana, M.Sn selaku pemateri kedua mengungkapkan bahwa penggunaan nama tempat di Jawa Barat khusunya Kota Bandung sudah tidak lagi menggunakan Bahasa Sunda, padahal dalam UU No. 24 Tahun 2009, dan Permendagri No 24 Tahun 2007 mengatur baik penggunaan Bahasa Indonesia dan daerah di ruang public, perkantoran, perumahan, komplek perdagangan iklan dll.

“Akhir-akhir ini sastra sering dianggap menakutkan oleh sastrawaan sendiri. Padahal sastra adalah bagian dari kehidupan sehari-hari dan bisa di tulis oleh semua orang. Jika ingin menjadi sastrawan mulailah dengan menulis.” pungkasnya  (YOS dan Azis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here