Beranda Jurnalis Warga Makna Kekeluargaan Dalam Organisasi Kemahasiswaan Milenial

Makna Kekeluargaan Dalam Organisasi Kemahasiswaan Milenial

506
0
Mahasiswa S1 Departemen Pendidikan Kewarganegaraan UPI

ERA milenial merupakan generasi yang digadang-gadang akan membawa Indonesia menuju masa keemasan. Menurut U. S. Chamber of Commerce Foundation, generasi milenial atau Milenial Generation adalah generasi manusia yang lahir dengan rentang tahun antara 1980-1999 M. Sedangkan manusia kelahiran tahun 2000 M sampai sekarang disebut dengan Z Generation.

Adapun perbedaan karakteristik seperti pola pikir, mobilitas yang tinggi, kecenderungan kurang penyabar, dan jiwa petualang merupakan beberapa hal yang membedakan generasi milenial dengan generasi sebelumnya. Hal ini pun turut dipengaruhi oleh penggunaan teknologi sejak usia dini dan juga efek globalisasi.

Dari penjelasan diatas, tentu perlu kita garis bawahi bahwasanya salah satu indikator yang membedakan antara generasi milenial dengan generasi sebelumnya adalah jiwa petualang. Jiwa petualang sendiri berarti orang yang siap mengarungi segala tantangan dan menemukan hal-hal baru dalam hidupnya. Tentu kita tidak bisa begitu saja mengklaim bahwa jiwa petualang dalam diri generasi milenial itu rendah harus ada riset yang membuktikan terlebih dahulu.

Berdasarkan aspek empiris penulis, pernyataan tersebut memang benar adanya. Ada pernyataan bahwa “Saya belum atau tidak sama sekali menemukan rasa kekeluargaan dalam organisasi ini”, menurut penulis itu merupakan suatu kekeliruan karena kita harus mengeneralisasikan fungsi dan makna dari dua hal tersebut yakni ‘organisasi’ dan ‘keluarga’.

Philip Selznick mengemukakan bahwa “organisasi adalah suatu sistem yang dinamis yang selalu berubah dan menyesuaikan diri dengan tekanan internal dan eksternal dan selalu dalam proses evolusi yang continue” (Hasibuan, 2003:26). Ini berarti setiap orang yang bernaung pada sebuah organisasi harus siap dengan kehidupan organisasi yang penuh dinamika karena bukan tidak mungkin kelak akan menghadapi berbagai tantangan.

Sementara itu menurut Wikipedia, keluarga sendiri berarti unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Secara pragmatis definisi keluarga tersebut hanya mencakup orang-orang yang sudah saling mengenal dan terbiasa berinteraksi.

Di sisi lain, organisasi dalam lingkup mahasiswa yang lazim dikenal dengan organisasi kemahasiswaan (ormawa) adalah suatu kelompok yang terintegrasi sebagai wadah pengembangan diri mahasiswa untuk dapat menyalurkan minat, bakat, dan keilmuan serta arah profesi mahasiswa dalam proses belajar dan proses pendidikan. Dari sini dapat dilihat bahwa sejatinya organisasi/organisasi kamahasiswaan merupakan wadah untuk menempa diri menuju ke arah yang lebih baik.

Permasalahannya, yang dihadapi oleh mahasiswa generasi milenial sekarang adalah bagaimana rasa kekeluargaan itu dapat mereka temukan dan rasakan bersama orang-orang baru yang meraka kenal. Tentu hal yang wajar apabila kita memimpikan akan hal itu, tetapi kita harus berkaca pada dinding cermin lebar-lebar agar tidak terjebak pada kata ‘kekeluargaan’.

Pada kondisi saat ini, kita mengamini bahwasanya mahasiswa generasi milenial lebih banyak berpartisipasi untuk ikut serta dalam organisasi kemahasiswaan, karena ada anggapan duduk di bangku kuliah saja belum cukup serta adanya paradigma mahasiswa “kupu-kupu” dan lain sebagainya turut mempengaruhi generasi milenial untuk berorganisasi. Namun, tak sedikit pula mahasiswa yang mengalami cultural shock (gegar budaya) di mana seseorang terkejut, gelisah, dan keliru ketika berhadapan dengan kebiasaan yang berbeda dari kebiasaan dirinya.

Kondisi-kondisi demikian, biasanya dipengaruhi oleh karakter mahasiswa milenial yang belum pernah sama sekali mengikuti organisasi atau bahkan organisasi yang ia ikuti memiliki corak dan culture yang berbeda dengan organisasi yang ia ikuti sebelumnya. Tentu itu bukan suatu alas an, melainkan sebuah konsekuensi dari sebuah pilihan. Karena apabia kita telah masuk ke suatu organisasi, otomatis kita mempunyai ikatan dengan organisasi tersebut dan sudah menjadi kewajiban kita untuk menghidupi organisasi bukan organisasi yang menghidupi kita.

Perlu diketahui, organisasi kemahasiswaan banyak ragamnya. Organisasi internal kampus seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Senat Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Jurusan (Hima), Organisasi Pecinta Alam. Serta ormawa eksternal kampus seperti PMII, GMNI, HMI, KAMMI, dan lain sebagainya yang lebih mengutamakan independensinya. Oleh karenanya, paradigma yang harus dibangun oleh mahasiswa tersebut ialah menjadikan orgainsasi sebagai sarana pengembangan diri.

Kita berhak untuk bernaung di organisasi manapun tetapi juga harus memiliki tanggungjawab penuh untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan oraganisasi yang ada. Oleh karenanya, ‘gotong-royong’ atau kekeluargaan dalam sebuah organisasi bukanlah perihal satu orang dalam suatu kondisi tertentu melainkan satu kesatuan dalam kondisi yang sama, senasib sepenanggungan, dan atas dasar usaha bersama. Hal seperti itulah yang harus kita tanamkan dalam berorganisasi kapanpun dan di manapun.

Sebagaimana yang pernah ditegaskan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa “janganlah orang mengira bahwa dasar kekeluargaan itu mengizinkan kita melanggar peraturan. Kekeluargaan kita adalah sikap kita pada yang takluk pada organisasi kita. Barang siapa dengan terang-terangan atau dengan siapa mengabaikan, wajiblah kita memandang dia sebagai orang luaran.”

Hal yang sama juga disampaikan oleh Presiden pertama Indonesia Soekarno bahwa “kekeluargaan adalah suatu faham yang statis, tetapi gotong-royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota terhormat, satu karyo, satu gawe.” Itu artinya, kekeluargaan dalam sebuah organisasi hanya akan didapatkan ketika semua pengurus bisa memahami kekurangan dan kelebihan masing-masing.  

Penulis : Ruspandi.

Mahasiswa S1 Departemen Pendidikan Kewarganegaraan UPI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here