Home Kasundaan Cing caringcing pageuh kancing, set saringset pageuh iket; Sebuah falsafah kehidupan Ki...

Cing caringcing pageuh kancing, set saringset pageuh iket; Sebuah falsafah kehidupan Ki Sunda

176
0

KASUNDAAN, wartapriangan.com: Bagi sebagian besar orang Sunda,  kalimat (pepatah) “Cing caringcing pageuh kancing, set saringset pageuh iket” tentu merupakan sesuatu yang tidak asing lagi, secara turun temurun kalimat itu terus diwariskan dari generasi ke generasi, entah itu hanya dianggap sebagai kalimat biasa atau bisa jadi juga ada sebagian orang yang menganggapnya sebagai warisan intelektual yang sarat makna.

Bagi masyarakat Sunda pada umumnya, kalimat tersebut memang biasanya ditujukan untuk menggambarkan sebuah kondisi kesiap-sediaan Ki Sunda dalam menghadapi segala sesuatu yang akan terjadi. Namun bagi sebagian orang yang lain kalimat tersebut bukan kalimat sekadarnya, tetapi memiliki makna yang dalam tentang “laku lampah” kehidupan. Walapun tentu saja makna-makna luhung dari pepatah karuhun tersebut mesti dibedah, dibahas atau dikaji melalui ragam pendekatan. Baik secara terminologis, filosofis maupun sosiologis atau bahkan teologis.

Menurut Abah Mandalajati Niskala yang merupakan seorang filusuf Sunda, bahasa terlahir  bukan dari kesepakatan dan rekayasa manusia, melainkan ia terlahir mengikuti kaidah alam yang fitrah selanjutnya disebut dengan “energi kalam”. Jadi untuk memahami suatu bahasa saja kita bisa menggali bagaimana puragabasanya, ungkarabasanya, apa tangarabasanya, ugabasa dan warugabasanya. Hal itu menandakan bahwa setiap kalimat/bahasa yang terucap pasti mengandung banyak makna yang perlu ditelisik agar kita mendapatkan hakikat/hikmah maknawinya.

Demikian halnya dengan pepatah “Cing caringcing pageuh kancing, set saringset pageuh iket”, penulis meyakini pepatah tersebut mengandung makna yang fundamental bagi kehidupan Ki Sunda, makna tersebut bisa kita maknai dari mulai mengidentifikasi tangarabasa (tanda/simbol)nya dan ugabasa (tujuan/ramalan penting)nya yang ada dalam pepatah tersebut.

Sejalan dengan itu, Clifford Geertz salah seorang antropolog pernah mengatakan bahwa ada 3 (tiga) unsur pembentuk kebudayaan manusia, yaitu sistem symbol, sistem nilai dan sistem pengetahuan dan relasi ketiganya adalah system of meaning (sistem pemaknaan). Jadi dengan melakukan pemaknaan terhadap simbol-simbol kebudayaan maka kita akan menemukan nilai dan pengetahuan yang dapat bermanfaat bagi keberlangsungan kehidupan.

Jika kita teliti lebih jauh, ada dua simbol yang disebutkan dalam pepatah tersebut yaitu kancing dan iket (udeng-bali), dimana keduanya juga merupakan simbol kebudayaan orang Sunda atau setidaknya kedua benda tersebut memang identik dengan pakaian orang Sunda. Kancing adalah benda (bagian dari baju) yang penempatanya berada di daerah dada ke bawah, sedangkan iket adalah benda yang penempatanya disimpan di kepala.

Jika kita maknai, wilayah dada itu adalah tempat hati nurani bersemayam dimana sejumlah perasaan manusia seperti; cinta, benci, takut, marah, malu, dengki, cemburu, gembira, terkejut, sedih, percaya dan yakin, bisa timbul karenanya sedangkan kepala adalah tempat dimana akal/pikiran berpusat karena di dalamnya ada organ tubuh bernama otak sebagai struktur pusat pengaturan gerak-gerik manusia yang memiliki volume sekitar 1.350cc dan terdiri atas 100 juta sel saraf neuron berada.

Maka menurut hemat penulis, pepatah yang berbunyi: “Cing caringcing pageuh kancing, set saringset pageuh iket” adalah falsafah hidup yang diwariskan leluhur kita bahwa sebagai manusia kita mesti menjaga serta menyelaraskan hati dan akal kita, dizkir dan dan pikir serta rasa dan rasio kita secara seimbang tidak boleh ada salah satu yang lebih dominan diantara keduanya.

Buah dari keseimbanganya tersebut akan melahirkan satu sikap yang disebut dengan kebijaksaan dan kebijaksaan Ki Sunda akan tercermin dalam pola sikap dan tingkah laku keseharianya seperti; ngajaga panon ku awasna, ngajaga letah kuucapna, ngajaga irung kuangseuna, ngajaga ceuli kudengena jeung ngajaga hate ku ikhlasna. Manusia dinobatkan sebagai makhluk yang sempurna, karena Allah telah menganugerahkanya 2 (dua) hal penting bagi kehidupanya yaitu hati dan akal sekaligus menjadikannya pembeda antara manusia dengan makhluk Allah yang lainya.

Hanya tetap saja dengan kesempurnaanya itu manusia akan terus diuji dengan sejumlah godaan (perang batin) antara konsisten dalam berbuat kebaikan atau sebaliknya, karena sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran, Al-Syams: ayat 7-8 yang berbunyi: “Wannafsi wamaa sawwaahaa (7) Faalhamahaa fujuurohaa wa taqwaahaa”. Yang artinya: “Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaan-Nya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaanya”.

Sehingga pada dasarnya setiap orang itu memiliki kecenderungan pada kebenaran (hanief) namun pada saat sama juga terbuka jalan untuk melakukan kefasikan atau maksiat. Tinggal sejauhmana masing-masing manusia mampu memetakan dirinya untuk tidak mengambil pilihan buruk yaitu kemaksiatan yang salah satu caranya bisa dilakukan dengan memfungsikan hati dan akal, fikir dan dzikir secara seimbang dan manunggal (terpusat hanya kepada Allah SWT), yang dalam teologi Sunda disebut dengan “Papat kalima pancer”.

Papat kalima pancer sebagai sebuah falsafah kehidupan teologis Ki Sunda dapat diartikan dengan menyatunya empat buana atau alam yang dapat dijangkau manusia baik  melalui pendekatan hati maupun akal (intuisi dan logika) nya yaitu: Pertama Buana Larang atau alam lahir, kedua Buana Pancatengah atau alam rasa, ketiga Buana Nyungcung atau alam ruh, keempat Buana Kahyangan atau alam akal-budi semuanya terpusat pada yang kelima yaitu Buana Agung, sebuah istilah untuk memaknai Yang Maha Mutlak (Allah SWT).

Melalui tulisan sederhana ini penulis dapat simpulkan bahwa kalimat (pepatah); “cing caringcing pageuh kancing, set saringset pageuh iket” selain bermakna kesiap-sediaan atau kewaspadaan Ki Sunda pada wilayah sosial juga merupakan falsafah kehidupannya pada wilayah spiritual.  Sehingga dengan memegang teguh kedua prinsip (menjaga hati dan akal) tersebut niscaya Ki Sunda akan menjadi manusia yang terhormat, bermartabat dan taat. Wallahu a’lam bishawab…!!

Penulis: Dani Danial Muklis, S.Pdi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here