Home Kasundaan JAWARA; Jalma nu Jagjag Waruga jeung Rasana

JAWARA; Jalma nu Jagjag Waruga jeung Rasana

174
0
Pegiat Budaya Jawa Barat, Dani Danial Muklis

KASUNDAAN, wartapriangan.com: Sebagaimana kita ketahui beberapa waktu yang lalu tepatnya pada hari kamis tanggal 12 Desember 2019 The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan Pencak Silat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage). Penetapan itu dilakukan di Bogota, Kolombia, waktu setempat.

Peristiwa tersebut tentu merupakan peristiwa yang sangat bersejarah sekaligus membanggakan bagi seluruh bangsa Indonesia sebagai negara dimana Pencak Silat itu lahir, tumbuh dan berkembang bahkan lebih dari itu pencak silat telah disepakati menjadi identitas budaya bangsa Indonesia.

Tak terkecuali bagi orang Sunda, ditetapkanya pencak silat oleh UNESCO adalah penghargaan tak ternilai bagi leluhurnya yang telah menjadi cikal-bakal adanya beladiri pencak silat yang kini telah merambah ke seluruh pelosok negeri bahkan sampai ke luar negeri.

Dalam sejarahya, pencak silat merupakan seni beladiri khas Sunda yang ada sejak abad ke 17 diprakarsai oleh salah seorang tokoh bernama Abah Khaer yang menguasai aliran beladiri bernama Maenpo Cimande.

Seiring perkembangan zaman dan banyaknya orang-orang yang secara turun temurun belajar dan menyebarluaskanya, kini pencak silat telah dikenal di seluruh pelosok Nusantara bahkan Dunia dengan berbagai pengembangan gerak yang disesuaikan dengan adat-budaya lokalnya masing-masing.

Kata Pencak Silat berasal dari dua bahasa, Penca (basa Sunda) yang berarti Lima, dan silat (berasal dari dialek orang Sumatera Barat) berarti ilmu gerak yang sempurna. Ada juga yang berpendapat bahwa pencak silat adalah gerak beladiri tingkat tingi yang disertai dengan perasaan, sehingga pencak silat merupakan penguasaan gerak efektif dan terkendali yang sering dipergunakan dalam latihan sabung atau pertandingan.

Pendapat lain juga mengatakan bahwa pencak silat adalah fitrah manusia untuk membela diri dan silatlah unsur yang menghubungkan antara gerakan dan pikiran (olah gerak dan olah pikir).

Dalam kebudayaan Sunda, pencak silat atau yang lebih dikenal dengan sebutan Silat saja tidak hanya dimaknai sebagai seni beladiri yang bersifat gerak ragawi (jasmani), lebih dari itu silat juga identik dengan gerak rasa/spiritual bahkan tak jarang banyak yang mengidentikan silat dengan hal-hal yang bersifat klenik/mistis.

Karena Silat merupakan produk budaya leluhur jaman dulu, maka tentu saja keberadaanya merupakan manifestasi dari cipta, rasa dan karsa manusia. Dan karena silat lahir dari cipta, rasa dan karsa manusia maka siapapun yang mempelajarinya, memahaminya dan mempraktekanya sehari-hari adalah ia yang harus memiliki kemampuan dalam mengharmonisasi antara cipta, rasa dan karsanya.

Sehingga seorang pesilat sejati akan tergambar dalam kepribadianya yang bijaksana dengan keluasan pikiran, rasa dan tanggungjawab yang dimilikinya.

Dalam pengertian yang lebih luas banyak juga orang yang mendefinisikan silat itu dari kata Shilat (bahasa arab) yang berarti menghubungkan, dengan kata lain seorang pesilat/pendekar adalah orang yang mampu saling menghubungkan antara gerak pikir, gerak rasa dan gerak ragawi yang karenanya dalam istilah seni pencak silat ada yang dinamakan Wirahma, Wirasa dan Wiraga.

Pada dimensi yang lebih filosofis, menurut hemat penulis, Silat memiliki 3 (tiga) dimensi penting; Pertama dimensi akademis. Silat dimaknai sebagai prodak intelektual, karenanya banyak sekali varian gerak yang diciptakan sebagai produk pemikiran. Kedua dimensi teologis. Silat dijadikan juga sebagai perlambang adanya hubungan manusia dengan Tuhanya; dan Ketiga adalah dimensi sosiologis.

Silat juga mengajarkan tentang bagaimana menjalani kehidupan sebagai makhluk sosial, sehingga seorang pesilat/pendekar adalah mereka yang memiliki jiwa sosial yang tinggi untuk dapat membantu sesama.

Ketiga dimensi yang terkandung dalam pemaknaan silat tersebut diformulasi dalam istilah: Silat (dimensi pikiran/akademis), Shalat (dimensi teologis), siliwangi (dimensi sosiologis) yang secara perlahan akan membentuk manusianya menjadi manusia yang cageur, bageur, bener, pinter tur singer.

Dan karena nilai-nilai itu jugalah kenapa dalam silat tidak pernah ada prinsip menyerang, karena silat bukan digunakan untuk melukai/menyakiti orang lain melainkan untuk bertahan membela diri dan membantu orang lain. Orang Sunda biasa menyebut seorang pesilat dengan sebutan jawara, yaitu seseorang yang memiliki kemampuan/kemahiran dalam beladiri silat. 

Akan tetapi jika merujuk pada sejarah, definisi dan filosifi pencak silat sebagaimana tersebut di atas, menurut hemat penulis Jawara tidak bisa hanya diartikan sebagai seseorang yang memiliki kemampuan beladiri  secara teknis saja, lebih dari itu kata Jawara mesti dimaknai sebagai orang yang memiliki keluhuran etis sebagai manifestasi dari adanya harmonissi pikiran, rasa dan perbuatan.

Merujuk pada definisi pencak silat secara holistik sebagaimana dijelaskan di atas terutama berkaitan dengan dimensi akademis, teologis dan sosiologis tersebut, penulis memiliki pendapat bahwa kata Jawara dapat pula didefinisikan sebagai akronim (singkatan) dari “jalma nu Jagjag Waruga jeung Rasana” (orang yang sehat Fisik dan Psikisnya).

Kata jagjag (bahasa Sunda) selain memiliki arti sehat juga menunjukan pada suatu kondisi kemapanan seseorang baik dari sisi fisik maupun psikis/kejiwaan. Oleh karenanya dalam filosofi Sunda ada yang disebut dengan Jalma nu Masagi. Kata Masagi adalah personifikasi atas sebuah karakter manusia Sunda yang memiliki kegenapan fikiran, kegenapan sikap dan kegenapan perbuatan.

Genap berarti tidak ganjil, artinya orang yang Masagi adalah orang telah mampu melakukan holistifikasi cipta, rasa dan karsa dalam dirinya sehingga keberadaan diriya menjadi seimbang, yang karena keseimbanganya itu ia bisa diterima di mana saja dan pada kondisi apa saja.

Pemaknaan Jawara dengan “Jalma nu Jagjag Waruga jeung Rasana”adalah cara pandang penulis untuk mengangkat harkat, derajat dan marwah pencak silat juga para para pesilatnya, agar silat dan para pesilatnya (Jawara) tidak dimaknai sekadarnya.

Rujukan:

1.https://www.kompas.com/tren/read/2019/12/13/084815065/unesco-tetapkan-pencak-silat-sebagai-warisan-budaya-tak-benda?page=all.

2. https://su.wikipedia.org/wiki/Silat_Cimand%C3%A9

3. https://www.liputan6.com/bola/read/2188878/pencak-sunda-asal-mula-pencak-silat

4. http://wahyunursalam29.blogspot.com/2014/06/pencak-silat-budaya-sunda.html

Penulis: Dani Danial Muklis, S.Pdi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here