Home Opini Fenomena Bystander Effect Dalam Kehidupan Sosial Kita

Fenomena Bystander Effect Dalam Kehidupan Sosial Kita

110
0
Ilustrasi seseorang yang terkena Bystander Effect (Sumber Foto: aspsikologi.com)

OPINI, Wartapriangan.com: Pernahkah kalian melihat situasi ketika terjadi perkelahian, kasus bullying, atau kecelakaan lalu-lintas, tetapi orang-orang di sekitar tempat kejadian hanya mengabadikan foto lalu pergi begitu saja? Atau kalian melakukan percakapan dalam sebuah group medsos seperti Line atau Whatsapp, namun anggota group yang lain hanya bersikap pasif (silent reader) terhadap percakapan yang timbul? Fenomena tersebut dikenal sebagai “bystander effect” atau Genovese Syndrom.

Bystander effect merupakan suatu fenomena psikologi sosial di mana orang hanya memilih untuk menjadi pengamat, menyaksikan bahaya yang terjadi, namun tidak melakukan apapun untuk membantu atau menghentikan kejadian tersebut. Istilah ini diperkenalkan oleh John M. Darley dan Bibb Latane pada tahun 1968, setelah mereka tertarik pada berita pembunuhan Kitty Genovese pada tahun 1964 di New York City.

Dikutip dari Wikipedia, pada tanggal 13 Maret 1964, Catherine Susan Genovese yang dikenal dengan nama Kitty Genovese (28 tahun) dirampok dan dianiaya hingga meninggal dunia. Ia ditikam di luar gedung apartemen di seberang jalan Austin di Kew Gardens, Queens, sebuah wilayah di Kota New York.  Saat kejadian, tidak ada satupun tetangga yang keluar untuk membantu. Bahkan menelpon pihak berwajib pun dilakukan 30 menit setelah kejadian.

Celakanya, Bystander effect tidak hanya terjadi dalam dunia kriminal saja, tetapi sering hadir pula pada kegiatan sehari-hari. Fenomena ini sungguh memilukan dan memalukan, tanda nyata kepekaan dan kepedulian seseorang terhadap orang lain telah tergerus. Sesuatu yang tak layak terjadi apalagi terulang.

Di era digital saat ini, kita semua pasti memiliki grup obrolan di gawai kita. Dalam satu waktu, ada salah satu orang yang bertanya, tetapi hanya di-read oleh para anggota grup lainnya, ini merupakan salah satu contoh dari bystander effect yang terjadi dalam kegiatan sehari-hari. Semakin banyak anggota grup, maka semakin besar pula kemungkinan bystander effect terjadi.

Menurut Latane dan Darley, kejadian tersebut disebabkan oleh dua hal utama, yaitu difusi tanggung jawab dan terlalu melihat situasi (efek pengamat). Pertama, difusi tanggung jawab merupakan anggapan atau keadaan saat orang merasa bahwa kita tidak harus menolong dan bertanggung jawab terhadap korban dikarenakan banyaknya orang di sekitarnya.

Banyak anggapan bahwa membantu orang lain di tempat umum merupakan tanggung jawab bersama, sehingga harus ada yang memulai agar korban dapat tertolong. Makin banyak saksi atau orang di tempat kejadian, keinginan untuk memulai membantu akan semakin sedikit dikarenakan setiap orang merasa mereka tidak bertanggung jawab atas korban yang membutuhkan pertolongan.

Kedua, terlalu melihat situasi. Saat kita ingin menolong korban, kita melihat reaksi orang lain terlebih dahulu sebelum bertindak. Kehadiran orang lain menyebabkan seseorang yang turut melihat atau mendengar kejadian yang memerlukan pertolongan tidak langsung memberikan bantuan, melainkan melihat reaksi dari dari orang-orang sekitar terlebih dahulu. Jika orang sekitarnya tidak melakukan apapun, maka bisa menjadi tanda bahwa kita pun tidak perlu memberikan pertolongan.

Lalu bagaimana cara mengatasi bystander effect ini? Sebagai makhluk sosial, tentu kita harus memiliki rasa empati dan simpati yang tinggi, serta kepedulian dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Hal ini bisa dimulai dari hal-hal kecil, seperti menjawab orang yang bertanya dalam grup medsos atau membantu orang tua yang akan menyebrang jalan.

Selain rasa peduli, untuk menghadapi bystander effect dibutuhkan keberanian untuk meng-inisiasi atau memulai terlebih dahulu sebelum orang lain yang memulai. Kita harus mau dan berani untuk memulai sesuatu, karena bystander effect memiliki pengaruh seperti efek domino, yaitu saat ada yang memulai, maka orang lain akan mengikuti juga.

Dari tulisan diatas, setidaknya kita dapat mengambil pelajaran bahwa jika ingin menolong orang lain tidak boleh memilih atau menunggu orang lain untuk menolong. Jadilah orang pertama yang berinisiatif untuk menolong ketika orang lain membutuhkan pertolongan. Kerena  semua hal yang terjadi di bystander effect kita berasal dari hal-hal kecil yang dilakukan secara terus menerus sehingga menjadi sebuah kebiasaan.

Penulis: M Azis S. H.

Editor: Rizwan/WP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here