Home FEATURE Silogisme Kopi dan Konservasi Musang

Silogisme Kopi dan Konservasi Musang

128
0
Husni (Kiri) Menunjukan Produk Patroman Kopi di Kedai Silogisme Kopi, Banjar (Foto: Yos/WP)

FEATURE, wartapriangan.com: Tempatnya tak begitu mewah. Untuk duduk saja tidak ada tempat empuk apalagi besar. Ada yang terbuat dari ban bekas ada pula dari bahan kayu sisa yang disusun kembali hingga menjadi sebuah kursi.

Walaupun tidak mewah, kedai kopi ini selalu ramai dikunjungi. Apalagi di malam minggu, banyak anak muda, mahasiswa menghabiskan malam sekedar berdiskusi ringan. Kedai kopi bernuansa taman rumahan itu mampu menyedot perhatian anak muda untuk bercengkrama saat malam tiba.

Malam itu, kedai kopi miliki Husni cukup ramai pembelinya. Halaman kedai pun tak mampu menampung motor, trotoar pun menjadi solusi untuk dijadikan tempat parikir motor saking penuhnya kedai kopi.

Seperti biasanya Husni dan beberapa temanya sibuk meracik kopi pesanan pembeli setianya. Pelanggan kedai kopi Silogisme yang terletak disekitar kawasan Pintu Singa Banjar Patroman, Jawa Barat itu, rela antre menunggu lama demi mendapatkan secangkir kopi patroman khas dari kedai kopi Silogisme ini.

Usai melayani pelangganya, Husni menyempatkan untuk menemui tim wartapriangan.com yang ikut rela mengantre seperti pembeli lainya. Dia duduk dan mempersikahkan kami untuk menyeduh kopi patroman buatnya itu.

“Sebetulnya saya membuat kedai silogisme kopi ini bentuk dari kekhwatiran saya terhadap konsrvasi lingkungan hidup terutama terhadap hewan Musang,” kata pembuka pembicaraan dari Husni.

Dia menungkapkan bahwa saat ini kondisi Musang terancam punah sehingga dia terus melakukan hal yang bermanfaat untuk konservasi Musang dari upaya sederhana. Husni menjelaskan awal berdirinya Silogisme kopi tersebut. Menurutnya, silogisme kopi ini adalah perwujudan dari patroman kopi yang diusung oleh Komunitas Musang Siliwangi Banjar Patroman (MSBP).

MSBP ini memiliki cita-cita ingin melakukan penyelamatan siklus hewan Musang. Berawal dari itu, patroman kopi mulai dimunculkan sebagai produk kopi khas Banjar. Selain itu, lanjut Husni yang pernah menjadi Ketua BEM Sekolah Tinggi Ilmu Tekni (STIT) Bina Putera Banjar, Jawa Barat tersebut menerangkan hadirnya patroman kopi tersebut upaya bersama mewujudkan visi Banjar yang menginginkan daerahnya sebagai kawasan agropolitan.

“Dari itulah saya kemudian berpikir, tanpa harus ada dorongan dari pemerintah kita sebagai warga negara serta bagian dari siklus kehidupan, kiranya perlu untuk mewujudkan itu dengan kerja nyata,” terangnya.

Buah dari hasil perenunganya itu, dia menggagas kedai silogisme kopi. Jelas bagi dia kedai ini erat kaitanya dengan makna filosofis yang cukup mendalam. Pemahaman Husni, silogisme itu penarikan kesimpulan dari deduktif ke induktif, tesis dan anti tesis kemudian sintesa.

“Bahwa pengetahuan dapat berkembang sesuai dengan jaman, tetapi ilmu tidak dapat berubah karena pondasinya pengetahuan. Filosofi itu harus memahami kesimpulan. Contoh, dari kopi hitam, menjadi kopi susu terus menjadi es kopi dan nanti akan kembali lagi pada kopi hitam kembali, karena siklus. Sehingga silogisme itu karena sebuah pilihan mana yang terbaik dan mana yang paling terbaik,” kata Husni sesekali menuangkan kopi dalam skoci.

Lantas apa kaitanya dengan kopi. Husni bercerita itu merupakan hasil dari pengalaman sewaktu dirinya kuliah dan pernah mengulang mata kuliah dasar-dasar logika. Dia mengaku bahwa sempat berambisi untuk menjadi penguasa karena ingin mewujudkan mimpinya itu. Tetapi dia kembali pada perenungan yang cukup dalam hingga Husni memutuskan untuk menjadi seorang pengusaha.

“Alhamdulilah, usaha kedai silogisme ini berjalan saya menyisihkan sebagian hasilnya untuk memberikan makan 15 Musang yang tersebar di Ciamis dan Banjar serta modal kopi dan sisanya tidak ada tabungan untuk kebutuhan pribadi,” katanya dengan ketawa. (Yos/WP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here