Home Sorot Bullying Mendominasi Kasus Kekerasan Anak, Kenali Gejalanya

Bullying Mendominasi Kasus Kekerasan Anak, Kenali Gejalanya

163
0
Ilustrasi (Sumber: tempo.co)

SOROT, wartapriangan.com: Seorang pelajar di Tasikmalaya, Jawa Barat terpaksa harus dirawat di rumah sakit. Pelajar berusia 11 tahun tersebut harus mendapatkan perawatan medis diduga mengalami depresi akibat prilaku bully.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Daerah Tasikmalaya, Jawa Barat, Ato Rinanto seperti yang dilansir detik.com menyambangi pelajar yang tengah mendapatkan merawatan medis. Dia memberikan motivasi, semangat agar bisa percaya diri dan kembali melakukan aktivitasnya kembali menjadi seorang siswa sekolah dasar.

“Anak ini mengalami depresi berat jadi ini diduga merupakan korban bully. Kami akan melakukan investigasi ke sekolah juga lingkungan anak ini,” ucap dia, Jumat (24/01/2020).

Ato menjelaskan berdasarkan informasi yang dia terima bahwa anak tersebut sejak kelas satu SD dia kerap menerima perlakukan yang kurang menyenangkan dari teman-temanya. Bahkan pernah mengalami sakit dan enggan untuk masuk sekolah kembali.

Kasus bullying tak hanya terjadi di Tasikmalaya, Jawa Barat.Berdasarkan sumber kompas.com di Jakarta Timur, ada seorang siswi berusia 14 tahun meninggal setelah melompat dari lantai empat sekolahnya. Meskipun siswi tersebut sempat mendapatkan perawatan namun nahas nyawanya tidak tertolong dan meninggal dunia pada Kamis (23/01/2020) kemarin.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat dari sejumlah kasus seperti kekerasan fisik, kekerasan psikis dan kekerasan seksual sepanjang 2019 lalu didominasi oleh perundungan atau bullying.

Korban pengeroyokan 3 kasus, kekerasan fisik 8 kasus, kekerasan seksual 3 kasus, 12 kasus kekerasan psikis dan bullying, dan kasus anak membully guru sebanyak 4 kasus. Retno menyebut mayoritas kasus-kasus tersebut terjadi di jenjang sekolah dasar, mencapai 25 kasus atau 67% dari keseluruhan kasus yang ada.

Berdasarkan sumber Litbang wartapriangan.com untuk mencegah terjadinya kasus perundungan maka perlu sekali mengenal perilaku anak mengalami bullying. Perilaku ini tidak hanya dialami oleh anak-anak perlakuan bully pun kerap dialami oleh orang dewasa.

Penyebab utama bully terjadi barawal dari candaan yang memojokan satu orang yang dianggap berbeda diantara anggota komunitas sosialnya. Biasnya ini disebabkan adanya perbedaan secara fisik maupun status sosial. Maka candaan berujung bully itu dianggap biasa saja.

Akan tetapi, psikologi orang tersebut hancur lantaran sebuah ucapan yang tak mengenakan hati. Walaupun tujuanya have fun tapi dilakukan berlebihan akan berujung pada gangguan psikis target orang yang di bullying.

Apabila ada anak atau orang yang terkena bully sikap perilakunya cenderung memisahkan diri dari khalayak orang banyak terutama di komunitas sosialnya. Selanjutnya, menyendiri dan keseringan melamun dengan tatapan kosong.

Apabila diajak berbicara daya tangkap dan konsentrasinya melemah. Bila mendapati anak atau orang dewasa terindikasi itu, maka cara mencegahnya yakni memberikan perhatian serta menjadi kawan untuk diajak berbicara dari hati ke hati dengan tujuan agar dapat menumbuhkan rasa percaya diri akibat dari terganggunya psikis dampak dari bully. (Hidayat/WP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here