Home Bandung Raya DPC GMNI Bandung Sesalkan Sikap BRSPDSN Terhadap Penyandang Disabilitas Wyata Guna Bandung

DPC GMNI Bandung Sesalkan Sikap BRSPDSN Terhadap Penyandang Disabilitas Wyata Guna Bandung

119
0

BANDUNG, Jawa Barat: Perubahan Nomenklatur Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wyata Guna menjadi Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPDSN) Wyata Guna berdasarkan PERMENSOS RI No. 18 Tahun 2018 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksanan Teknis Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas di Lingkungan Direktorat Jenderal Rehabilitas Sosial yang mulai diberlakukan semenjak Tahun 2019 lalu.

Nomenklatur Wyata Guna yang semula adalah Panti beralih fungsi menjadi Balai Rehabilitasi Sosial tersebut menyebabkan adanya perubahan mekanisme dan prosedur daripada Unit Pelaksanaan Teknis (UPT), pembatasan kuota penerima layanan serta jangka waktu rehabilitasi BRSPDSN. Hal ini menyebabkan adanya Terminasi kepada para penghuni Wyata Guna yang dinyatakan tidak termasuk lagi kedalam kategori tersebut.

Menyikapi Hal ini, Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Bandung sangat menyayangkan adanya tindakan yang kurang baik dari pihak BRSPDSN dalam upaya mengeluarkan para penghuni Wyata Guna yang sebelumnya merupakan penerima fasilitas panti Wyata Guna.

Hal ini dinilai bertentangan dengan Poin 4. Pokok isi Konvensi UU No. 19 Tahun 2011 tentang pengesahan Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas yang berbunyi

“Setiap penyandang disabilitas harus bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang kejam, tidak manusiawi, merendahkan martabat manusia, bebas dari eksploitasi, kekerasan dan perlakuan semena-mena, serta memiliki hak untuk mendapatkan penghormatan atas integritas mental dan fisiknya berdasarkan kesamaan dengan orang lain. Termasuk didalamnya hak untuk mendapatkan perlindungan dan pelayanan sosial dalam rangka kemandirian, serta dalam keadaan Darurat”.

Menurut Ketua DPC GMNI Bandung, Bachroen Ilham, yang didampingi oleh Wakil Ketua Bidang Kaderisasi DPC GMNI Bandung, Bung Faisal Aji Pradana, Seharusnya Implementasi daripada PERMENSOS RI No. 18 Tahun 2018 ini dilakukan dengan cara yang lebih manusiawi sehingga peraturan perundang-undangan dapat dijalankan tanpa ada pihak yang dirugikan bahkan di intimidasi baik secara verbal maupun secara perlakuan.

“Berdasarkan hasil yang Kami lihat langsung dilapangan tadi siang, ada puluhan penyandang disabilitas yang mayoritas mahasiswa dan telah lulus kuliah yang tidak memiliki tempat tinggal sejak kemarin malam tidur di trotoar depan Wyata Guna, hal ini tentunya sangat tidak manusiawi karena membiarkan saudara-saudara kita untuk tidur di jalanan (trotoar), apalagi ini terjadi kepada saudara-saudara kita yang berkebutuhan khusus. Tujuan daripada Hukum itu kan untuk melindungi, bukan untuk menindas atau memperburuk keadaan.” Ujarnya.

Adapun perubahan status dari Panti menjadi Balai ini sudah dilakukan sejak awal tahun 2019 lalu, DPC GMNI Bandung menilai bahwa sosialisasi alih fungsi Balai Rehabilitasi Sosial yang dilakukan pihak BRSPDSN kurang maksimal sehingga berdampak seperti ini.

“Kalaupun sudah dilakukan sosialisasi terkait alih fungsi Panti Wyata Guna menjadi Balai Rehabilitasi Sosial Wyata Guna, sosialisasi tersebut kurang maksimal karena pada hari ini buktinya ada kawan-kawan kita yang terlantar dan tidak jelas kedepannya seperti apa nasibnya. Pihak BRSPDSN harusnya bertanggung jawab memikirkan dan mencari solusi terkait hal tersebut.”

“Pun tadi dikatakan bahwa pihak Pemprov Jabar siap menampung Saudara-saudara kita yang sudah tidak termasuk lagi kedalam kriteria penerima layanan Wyata Guna, namun kenyataan bahwa ada saudara-saudara kita yang berkebutuhan khusus tidur di jalan seharusnya tidak terjadi, apalagi di Kota Bandung ini, Kota yang bermartabat” ujar Faisal Aji selaku Wakil Ketua Bidang DPC GMNI Bandung.

Penulis: Yos/WP

Editor : Rizwan/WP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here