Home Opini Sekolah yang Mengasingkan

Sekolah yang Mengasingkan

281
0
Siswa diberatkan dengan segudang tugas dan tuntutan waktu

“Apakah gunanya seseorang belajar filsafat, sastera, tehnologi, kedokteran, atau apa saja, bila pada akhirnya ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata: “Di sini aku merasa asing dan sepi!”. Begitulah bait kalimat dari sajak WS Rendra berjudul Seonggok Jagung (baca Puisi Seonggok Jagung di Kamar). Melalui sajak tersebut, W S Rendra ingin menceritakan tentang sebuah ironi dalam pendidikan di Indonesia.

Pendidikan sejatinya adalah sebuah proses untuk mempersiapkan setiap peserta didik agar dapat terjun ke masyarakat. Namun, kenyataan berkata lain justru pendidikan membuat setiap peserta didik terasing dari dunianya. Pendidikan membuat anak petani tidak tahu cara bercocok tanam. Pendidikan membuat anak seorang pedagang tidak tahu cara menjual barang. Pendidikan membuat anak seorang nelayan tidak tahu caranya menangkap ikan dilautan.

Menurut data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik ditahun 2013 menunjukan bahwa di Indonesia sedang terjadi krisis regenerasi petani. Dari total 26.135.469 petani yang saat itu terdata, kelompok usia 45-54 tahun memiliki jumlah absolut terbanyak: 7.325.544 orang. Jumlah terbesar kedua pada kelompok usia 35-44 tahun (6.885.100 orang) dan jumlah ketiga dan keempat pada kelompok usia lebih tua lagi, yakni 55-64 tahun (5.229.903 orang). Sementara kelompok usia lebih dari 65 tahun sebanyak 3.332.038 petani.

Adapun jumlah petani muda di kelompok 25-35 sebanyak 3.129.644 orang. Semakin usia ke bawah pun semakin sedikit. Pada kelompok usia 15-24 tahun, jumlah petani hanya 229.943 orang. Jumlah paling sedikit pada kelompok di bawah usia 15 tahun, yakni 3.297 orang (https://tirto.id/indonesia-krisis-regenerasi-petani-muda-cnvG).

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengatakan rendahnya minat anak muda untuk menjadi petani disebabkan terjadinya perubahan pada keluarga, sawah, akitvitas non-pertanian dan sekolah, yang justru mengasingkan generasi muda dari lingkungan hidupnya. Sebagai catatan angka kemiskinan di Indonesia pada bulan Maret 2019 adalah 25,14 juta penduduk, dan sebagian besar adalah di penduduk Desa yang berprofesi sebagai petani. Lebih tepatnya adalah penduduk Desa yang berprofesi sebagai petani dan tidak tahu cara bertani juga hidup sengsara.

Membaca sajak Rendra yang ditulis tahun 1975  tersebut harusnya membuat kita bertanya, kenapa sudah hampir 44 tahun Rendra menulis sajak tersebut pendidikan kita tetap mengasingkan peserta didik dari dunianya.  

Full Day School


Pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo  sepertinya menghayati betul pepatah Rajin Pangkal Pandai. Untuk mengimplimentasikan pepatah tersebut pada  tahun ajaran 2017/2018 resmi mengeluarkan aturan bahwa dalam sehari peserta didik harus belajar selama 8 jam dalam sehari. Apabila sekolah dimulai jam 07.00 maka akan selesai pada jam 15.30. Muhadjir Effendy yang waktu itu menjabat sebagai Mendikbud dan sekarang sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) mengatakan beberapa alasan dikeluarkannya aturan sekolah 8 Jam sehari atau sering disebut Full Day School adalah untuk membentuk karakter.

Muhadjir tidak menjelaskan karakter seperti apa yang akan dibentuk. Namun kita bisa mudah menebaknya kemungkinan besar karakter yang ingin dibentuk adalah sesuai dengan UU Sisdiknas yaitu menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab sesuai undang-undang sistem pendidikan nasional. Akan tetapi benarkah full day school ini membangun karakter? mari kita baca curhatan seorang peserta didik yang dimuat di mojok.co dengan judul “Curhat Anak SMA Soal Beratnya Full Day School”.

Peserta didik dalam tulisannya menjelaskan bahwa sebelum diterapkan full day school, dirinya tetap pulang sekolah pada sore hari. Tentu hal ini sama seperti setelah full day school diterapkan. Namun, terdapat perbedaan antara pulang sekolah sore hari ketika sebelum dan sesudah full day school diterapkan. Sebelumnya pulang sore menurut peserta didik ini di isi dengan kegiatan ekstrakurikuler atau nongkorng bersama teman-temannya dengan ber haha hihi ria setelah seharian berkutat dengan belajar materi sekolah. Setelah full day school diterapkan kegiatan seperti ekstrakurikuler dan nongkrong tidak bisa dilakukan.

Hal ini terjadi karena pulang sore siswa di isi dengan kegiatan belajar sampai sore hari yang menuntut otak harus segar dari jam 7 pagi sampai sore. Tentulah hal ini sangat membebankan pikiran. Selain itu juga telah terjadi penyimpangan dalam tugas pekerjaan rumah (PR). PR yang seharusnya dikerjakan dirumah kenyataanya dikerjakan di sekolah.

Peserta didik tersebut menceritakan alasan mengapa ia mengerjakan PR disekolah. Peserta didik tersebut  pulang dari sekolah jam empat sore dan sampai jam setengah enam sore. Setelah sampai dirumah dia mandi, shalat dan makan sampai jam tujuh. Ketika ada niat untuk mengerjakan PR otaknya sudah lelah dan akhirnya dia memutuskan untuk menundanya dan mengerjakan PR disekolah.

Setelah full day school diterapkan pengeluarannya sebagai peserta didik menjadi bertambah. Di akhir tulisannya peserta didik ini menjelaskan bahwa full day school telah membuat kegiatan ekstrakurikuler terbengkalai, dan telah menghilangkan masa indah remajanya seperti kisah-kisah percintaan ala anak SMA karena disibukan dengan belajar dan belajar.

Masih di tulisan yang sama seorang guru memberi tanggapan kepada tulisan tersebut dan menyatakan bahwa guru pun terbebani dengan diberlakukanya full day school. Guru tersebut menyatakan bahwa dia telah jauh dari keluarga sebab hari-harinya tersita disekolah. Dia setiap harinya harus meninggalkan rumah pada pukul 05.45 dan tidak pernah bisa menyiapkan anak kesekolah karena harus tiba pukul 06.30 kesekolah.

Ketika dia pulang kerumah, dia tidak sempat menemani anaknya untuk belajar atau bercerita karena sudah tidak ada waktu dan lelah disekolah. Menurutnya ini adalah ironi. Disekolah dia mengajarkan untuk bagaimana berinteraksi dimasyarakat namun, dia sebagai guru  tak pernah punya waktu. Waktunya berjam-jam disibukan untuk administrasi sekolah sehingga melupakan anaknya dirumah.

Membaca cerita diatas sudah seharusnya full day school dihentikan karena tidak sesuai lagi dengan tujuan. Rencana untuk menumbuhkan karakter yang baik pada kenyataanya yang muncul adalah penyimpangan. Ditambah telah terjadi pengasingan baik pada guru dan murid hanya untuk bercerita kepada keluarganya sajah sudah tidak sempat karena waktu dan tenaga sudah habis disekolah.

Paul Goodman seorang pemikir pada tahun 1960-an telah menyuarakan tentang dominasi sekolah dalam pendidikan. Menurutnya pendidikan yang dilakukan oleh sekolah tidak menyiapakan anak untuk kontribusi nyata dan hanya menyia-nyiakan kemampuan  terbaik manusia untu belajar dan mandiri. Untuk itu Paul  Goodman menyatakan bahwa pendidikan  terbaik yang dapat dirasakan oleh seorang anak adalah pendidikan insidental, yaitu pendidikkan yang didapat saat anak terlibat aktif dan menyatu dengan semua kegiatan sosial kemasyarakatan di lingkungannya (Kreshna, 2013).

Contoh sekolah yang menerapkan pendidikan Insidental Paul Goodman adalah SMK Kolese John De BrittoYogyakarta. Setiap peserta didik kelas XII disekolah ini wajib melaksanakan program magang kerja Sosial. Di program magang ini peserta didik akan dikirim ke perkampungan kumuh, panti jompo, panti penyandang autis dan panti rehabilitasi kaum difabel.

Peserta didik di program ini ada yang bekerja sebagai pemulung, pengamen jalanan, pedagang asongan, kuli pasar dan perawat di panti jompo. Melalu program ini peserta didik diajarkan tentang realitas yang ada disekitarnya. Peserta didik menjadi tahu bahwa dibalik tembok sekolah yang indah terdapat kehidupan yang keras terkadang tidak adil. Kisah tentang peserta didik yang inspiratif ini bisa pembaca temukan di buku  Tapal Batas: A Journey to Powerful Breakthrough.

Susan Shumsky dalam (Sumardianta, 2013:38) mengatakan “Apa perbedaan sekolah dengan kehidupan? Disekolah sesudah belajar, kamu diberi soal ujian. Dalam kehidupan kamu diberi ujian yang mendidikmu dengan pembelajaran”. Sudah seharusnya sekolah melibatkan masyarakat dalam proses pendidikan. Bukannya menunjukan arogansi sebagai satu-satunya institusi yang dapat mendidik, sehingga kita bisa menjawab puisi Rendra dengan lantang.” Sekolah hari ini sudah tidak lagi mengasingkan peserta didiknya Do, karena masyarakat telah terlibat aktif dalam proses pendidikan”.

Penulis: Anggi M Adha. Pengamat Pendidikan

Editor : Rizwan/WP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here