Home FEATURE “Olivetti Valentin : Sebuah Karya Desain Radikal”

“Olivetti Valentin : Sebuah Karya Desain Radikal”

139
0
Olivetti Valentine di dalam toko barang antik Vintage Liem

FEATURE, Wartapriangan.com: “Dulu gak laku, sekarang jadi inspirasi desain-desain barang yang ada”, terang Rio Anandityo saat menceritakan tentang Olivetti Valentine yang ia pajang pada posisi sentral di Vintage Liem, toko barang antik miliknya. Di Cikapundung, Kota Bandung.

Dengan warna merah cerah, memikat mata orang yang melangkah di depan tokonya, membuat penasaran untuk menilik lebih dekat. Desain unik, bentuk sederhana, terkesan ringan. Papan ketik hanya menyediakan huruf kapital menjadikannya terlihat simple dan memesona. Tepat di bagian atasnya terdapat goresan menonjol dari rangka bertuliskan Valentine.

Olivetti Valentine, sebuah mesin tik produksi Olivetti, perusahaan multinasional asal Italia. Olivetti Valentine didisain oleh seorang seniman visioner, Ettore Sottsass bersama Perry King. Dirancang dengan penuh nilai estetika yang saat itu melebihi jamannya, menjadikan mesin tik ini kurang suskses dipasaran pada saat pertama kali diluncurkan pada hari valentine tahun 1969.

Ettore Sottsass adalah seorang arsitek, pelukis, designer abad ke-20 asal Italia. Pada tahun 1958, Sottsass disewa oleh Adriano Olivetti sebagai konsultan desain untuk merancang perangkat elektronik dan mengembangkan komputer mainframe di perusahaannya. Ia juga merancang peralatan kantor, mesin tik, dan furniture. Di sana Sottsass menjadikan nama nya sebagai perancang yang melalui warna, bentuk dan gaya, berhasil membawa peralatan kantor masuk ke ranah budaya popular.

Pada tahun revolusioner 1968, Sottsass meyakinkan Olivetti untuk memproduksi ‘Valentine’. Dibuat portable sebagai bentuk pelarian dari rutinitas kantor sehingga seseorang bisa menggunakannya untuk membuat karya puisi ataupun novel di tempat yang ia mau, seperti di pantai, hutan atau di mana pun yang dapat menghasilkan inspirasi.

Perancanganya Ettore Sottass, mengatakan bahwa Valentine “diciptakan untuk digunakan di mana pun kecuali kantor, sebagai pengalihan dari jam kerja yang monoton, dan lebih untuk mendukung seniman pencipta puisi amatir di hari Minggu yang tenang di pedesaan atau hanya sebagai objek berwarna cerah yang dapat ditempatkan diatas meja apartemen studio.” Dengan bentuknya yang cantik dan praktis Valentine memang cocok jika dijadikan sebagai pajangan penghias interior.

Pada saat itu, umumnya mesin tik memiliki desain yang cenderung kaku dan berwarna hitam yang identik dengan kejenuhan suasana kantor. Ia memilih merah terang sehingga “tidak mengingatkan siapa pun dari jam kerja monoton,” Merah, warna nafsu, gairah, dan inovasi. Ini juga merupakan warna salah satu “kesalahan” desainer tahun 1969. Dengan topi gulir oranye yang menyerupai puting dan mata melambangkan gairah sensual dan kesegaran.

Bentuknya pun dibuat sedemikian cantik, Desain awal Sottsass menghilangkan semua huruf kecil bahkan bel, dan bahan pembuatan menggunakan tingkat plastik yang lebih murah untuk menurunkan biaya produksi dan teknik. Itu adalah ide yang aneh dan radikal. Tas casing plastik nya pun revolusioner, menembus batasan standar bahan pembuatan saat itu.

Desain Ettore Sottsass berada di ranah pemberontakan yang penuh warna dan menyenangkan terhadap bentuk aksioma modernis mengikuti fungsi. “kunci modern art itu form follow function” tutur Edy, dosen desain komunikasi visual. Itu adalah salah satu contoh pertama dari mesin rancangan seorang desainer yang didorong oleh pemahaman tentang sifat emosional dari hubungan antara orang-orang dan hal-hal yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Sottsass melampaui kesamaan desain mesin tik dengan memberikan Valentine kepribadian yang menawan. Menjadi simbol pergerakan awal modern art dengan budaya pop yang memadukan bentuk sesuai fungsi. Karya yang Sottsass sebut sebagai “mainan sederhana” ini secara sublimin menghipnotis ide peralatan kantor setelahnya. Banyak perusahaan memproduksi peralatan kantor dengan gaya yang lebih menarik dan material murah namun berkualitas, sehingga menciptakan hubungan emosional yang nyaman dengan penggunanya.

Salah satu produk popular dari perusahaan tersukses di dunia yang terinspirasi oleh mesin tik ikonis ini ialah iMac Candy Color keluaran Apple tahun 2005. “iMac” mengubah komputer desktop dengan menggunakan bahan campuran plastik transparan dan warna asam tajam. Steve Jobs menggambarkan desain ini Candy Color karena cukup terlihat lezat untuk dijilat. “iMac” menciptakan model baru untuk komputer, yang menandakan bahwa komputer itu menyenangkan, akrab dan sensual, dari  pada teknokratis dan lugas. Selaras dengan tujuan penciptaan Valentine.

Konsep penggunaan bahan yang terjangkau pun berdampak pada apa yang terjadi hari ini, produk-produk elektronik dapat diproduksi secara massal yang memiliki dampak demokratis. Ini dapat meningkatkan kehidupan sejumlah besar orang dengan cepat melalui kemajuan teknologi.

Kita mungkin tidak berpikir tentang pelanggan Apple rata-rata sebagai penyair kesepian, namun gagasan bahwa teknologi informasi, pada dasarnya, dapat menjadi cerah, seksi, muda dan aspirasional yang akrab dengan generasi milenial, pertama kali diungkapkan pada Valentine, dan masih digunakan sampai sekarang oleh pencipta Apple dan banyak lainnya di seluruh dunia. Dan untuk itu kita harus berterima kasih kepada Sottsass dan mesin sensualnya.

Olivetti Valentine menjadi salah satu maha karya seni modern yang hari ini memamerkan kecantikan lestari pada setiap pengunjung yang datang ke (MOMA) di New York, Amerika Serikat. Menjadi pengingat pemberontakan industri prakarsa Ettore Sottsass.

“Life After Death” judul sebuah buku karangan Neville Randal, Dirasa sesuai dengan nasib mesin tik yang berada di sampingnya dalam toko Vintage Liem. Sebuah karya desain yang ketika lahirnya tidak sukses di pasaran karena dianggap radikal dan memberontak, akhirnya menjadi simbol modern art yang menginspirasi terciptanya produk-produk elektronik dengan gaya popular yang bergairah, termasuk laptop yang saya gunakan untuk menulis ini.

Penulis: M Ryan Hidayatullah

Editor : Rizwan/WP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here