Home Opini Jangan Remehkan Guru

Jangan Remehkan Guru

547
0

Opini, Wartapriangan.com: PADA Desember 2019 kemarin, menteri termuda dalam kabinet Presiden Joko Widodo yakni Mendikbud Nadiem Makarim melakukan rapat kerja dengan komisi X DPR RI. Dalam rapat kerja ini Nadiem Makarim berencana akan menghapuskan ujian nasional dan menggantinya dengan assesmen kompetensi. Assesmen kompetisi ini menurut Nadiem kualitasnya akan setara dengan yang dilakukan oleh Programme for International Student Assesment (PISA) sebuah program untuk menguji performa akademis anak-anak sekolah yang berusia 15 tahun.

Ditengah-ditengah pemaparannya, Nadiem mengatakan “jangan remehkan guru”. Hal tersebut ia katakan sebagai respon atas pandangan sebagian orang yang banyak meremehkan kualitas guru dalam membuat assesmen yang berkualitas. Tentu hal ini menarik untuk kita kaji bersama. Oleh karenanya, tulisan ini bertujuan untuk mengelaborasi statemen Nadiem tersebut.

Melihat rangking pendidikan Indonesia di PISA kita tidak perlu capek-capek lihat dari atas cukup lihat tabelnya langsung saja kebawah karena posisi Indonesia ada diperingkat sepuluh besar dari bawah. Untuk lebih rincinya menurut hasil PISA 2018 yang melibatkan 79 negara untuk  kemampuan membaca Indonesia berada diperingkat 74, untuk kemampuan matematika berada diperingkat 73 dan kemampuan sains diperingkat  70 (https://www.oecd.org/pisa/PISA%202018%20Insights%20and%20Interpretations%20FINAL%20PDF.pdf).

Untuk bisa memahami alasan mengapa Indonesia bisa masuk rangking “sepuluh besar” penulis akan memberikan contoh soal PISA seperti berikut:

RATA-RATA JARAK TEMPUH (km/liter) MOBIL BERDASARKAN JENIS BAHAN BAKARNYA
Merek Mobil Premium Pertamax
V 17 23
W 20 25
X 22 28
Y 22 24
Z 23 24

Dari kelima merek mobil ini, berapakah rata-rata (dalam km/ liter) peningkatan jarak tempuh penggunaan pertamax dari premium ke pertamax

A.        4,5

B.        4

C.        3,5

D.        3

E.         2

Sumber soal: http://www.bincangedukasi.com/penilaian-pendidikan-indonesia.html

Untuk menjawab soal seperti diatas kemungkinan besar siswa Indonesia memerlukan waktu yang cukup lama karena memaksa siswa untuk memahami informasi dari tabel dan menganalisisnya. Apabila soalnya diganti dengan soal yang sering dikerjakan disekolah seperti hitunglah rata-rata dari 6,5,6, 2 dan 1 pasti siswa kita akan cepat menjawabnya.

Membuat soal seperti contoh diatas memerlukan kemampuan lebih dari pembuat soal. Pertanyaanya adalah apakah guru-guru yang ada disekolah mampu membuat soal yang memerlukan kemampuan analisis? Menurut hasil uji kompetensi guru yang merupakan alat ukur untuk menilai penguasaan pedagogik, kemampuan guru mengelola kelas, menyiapkan strategi belajar untuk murid, kompetensi profesional, penguasaan guru terhadap materi dan mengevaluasi pembelajaran menunjukan rata-rata guru tidak lulus standar yang ditetapkan oleh pemerintah.

Ditahun 2015 rata-rata hasil ukg adalah 5,67 dari target 5,5. Tahun 2016 adalah 6,49 dari target 6,5  dan tahun 2017 adalah 6,54 dari target 7. Artinya dari tiga kali UKG selama dua tahun berturut-turut guru di Indonesia bisa dikatakan tidak berkualitas. Hanya sekali saja guru Indonesia dikatakan berkualitas itupun nilainya hanya 5. Meskipun hasil dari UKG tidak menggembirakan, hasil UKG tersebut tentunya bisa diperbaiki dengan melakukan diklat-diklat.

Pertanyaan berikutnya apabila untuk memperbaiki dilakukan dengan diklat apakah guru-guru memiliki motivasi untuk mengikutinya? Merujuk pada data yang dikeluarkan Neraca Pendidikan Daerah pada tahun 2018 lalu, jumlah guru di Indonesia adalah 3.048983 guru dengan usia jumlah guru yang berusia 51-55 tahun lebih berjumlah 777.332. Artinya seperempat guru di Indonesia sudah berumur tua. Sementara yang berusia muda banyak di didominasi oleh guru bukan PNS.

Oleh karenanya, menurut hemat penulis, sulit rasanya guru-guru yang sudah berusia tua mau belajar kembali hal-hal baru yang membuat mereka harus bekerja keras. Mengharapkan guru-guru yang berusia muda yang didominasi non pns pun sulit rasanya, karena guru-guru non pns ini diupah dengan tidak layak. Pemerintah akan dianggap kurang ajar apabila, menuntut guru-guru ini harus mengeluarkan kemampuan terbaik mereka sementara hak mereka pun tidak terpenuhi oleh pemerintah.

Untuk bisa memenuhi kebetuhan hidupnya, banyak dari guru-guru non PNS ini mengajar di dua sekolah ditambah mengajar di lembaga bimbingan belajar. Hal itu semata-mata mereka lakukan karena upah dari mengajar tidak mencukupi kebutuhan hidupnya.  Saking menginspirasinya kehidupan para guru non PNS sampai-sampai  webtoon komik yang dibuat oleh line membuat komik dengan judul Pak Guru Inyong.

Dengan melihat kondisi guru diatas bisakah kita percaya dengan ucapan Nadiem jangan remehkan guru.  Nadiem sebagai driver di bidang pendidikan Indonesia harus menjelaskan alasan yang cukup agar masyarakat Indonesia tidak meremehkan guru. Jangan sampai kebijakan untuk mengganti ujian nasional dengan assesmen standar dunia nantinya di cancel karena jarak antara kenyataan dan harapan kejauhan. Seperti pengemudi gojek yang sering meminta cancel kepada pelanggannya apabila disuruh mengantarkan dengan jarak yang jauh.

Penulis: Anggi M Adha, S.Pd

Editor: Admin/WP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here