Home FEATURE Merefleksi Resolusi Hidup

Merefleksi Resolusi Hidup

638
0

AKHIR tahun 2019 hampir berakhir, banyak rentetan peristiwa terjadi silih berganti. Suka duka, jatuh bangun, pahit manis, serta baik buruk telah mewarnai lembar kertas kehidupan. Hanya dalam hitungan jam, gulungan 2019 itu akan terbungkus rapi dalam sebuah wadah bernama masa lalu, sementara tirai 2020 akan segera diurai dengan ucapan ‘selamat datang tahun baru’.

Awal tahun memang dimaknai sebagai awal yang baru dan bersih. Sebagian besar dari penduduk di bumi memiliki kecenderungan alami untuk melakukan perbaikan diri. Rencana demi rencana, tersusun rapi sebagai target pencapaian diri. Adanya target yang dibuat dapat dijadikan pedoman dalam mengarahkan diri supaya lebih fokus dan termotivasi. Hal ini tentu dapat menjadi alarm untuk meraih impian yang tersusun dalam sebuah kata resolusi.

Faktanya, tidak banyak orang yang mampu mempertahankan resolusi yang ada. Tidak adanya kekuatan, kemauan dan kepercayaan terhadap kemampuan diri menjadi senjata pembunuh yang dapat menghancurkan rencana yang diinginkan. Keinginan untuk memperbaiki diri hanya eksis di fase awal sebagai syarat untuk menyambut pergantian tahun. Seperti halnya siklus daur ulang, evaluasi resolusi di akhir tahun akan sama saja seperti tahun-tahun sebelumnya.

Kini, tahun 2019 akan benar-benar pamit undur diri. Agar tidak kembali menyesal dan merugi, ada beberapa hal yang perlu direnungkan kembali. Pertama, selaraskan diri. Refleksi ini adalah upaya kita untuk kita bisa mengambil jeda dengan kehidupan yang seringkali berjalan terlalu cepat tanpa mengenal batas aturan. Kita perlu menilai apakah hidup yang dijalani ini sudah selaras dengan prinsip kemanusiaan, atau justru malah sering terjerembab kedalam kubangan ketidakmoralan.

Dalam kehidupan saat ini, banyak diri yang tidak sadar bahwa dirinya dihadirkan ke dunia ini untuk beribadah kepada Tuhan, sehingga hidup hanya mengedepankan selera dan kehendak diri memperturutkan hawa nafsu. Setiap detik waktu yang dijalaninya hanya dipenuhi oleh aktivitas yang menyenangkan hawa nafsu. Alhasil hidup hanya sekedar hidup, tapi sesungguhnya tidak sadar makna hidup.

Kedua, selaraskan waktu. Ibarat sebuah kartu seluler, kehidupan kita di muka bumi ini memiliki masa aktif, masa tenggang dan juga masa habis waktu. Namun, dalam penggunaanya setiap orang memiliki kondisi yang berbeda-beda. Ada yang cemas selalu merasa kekurangan waktu, ada juga yang stres karena memiliki banyak waktu senggang tetapi tidak mengerti harus melakukan apa. Alhasil, setiap waktunya berkurang tanpa dibarengi dengan hal-hal yang berarti.

Waktu adalah satu-satunya sumber kehidupan. Bagi yang siap waktu adalah sumber kebahagiaan, sementara untuk yang tidak siap waktu adalah sumber kerugian. Celakanya, tak ada teknologi canggih yang mampu menarik waktu yang telah pergi jauh. Bak kata Imam Al-Ghazali, detik yang berlalu adalah jarak yang terjauh dalam kehidupan manusia. Tak ada yang mampu menempuhnya, karena memang tidak ada cara untuk sampai ke sana. Maka pergunakanlah waktu sebaik-baiknya.

Ketiga, selaraskan syukur. Ketika selaras diri dan selaras waktu dijalani, maka hiasi dengan rasa syukur akan setiap hal yang terjadi. Hidup akan terasa berat bila tidak dihiasi dengan rasa syukur. Mengukur diri dengan timbangan dan kebahagiaan orang lain hanya akan melahirkan iri hati dan benci. Sebab ukuran bahagia itu bukanlah kesuksesan meraih sesuatu, tapi mensyukuri sesuatu yang datang dan diberikan oleh Tuhan.

Oleh karenanya, jangan balut diri dengan selimut kedengkian dan kebencian.  Segeralah buang selimut-selimut itu, ganti dengan selimut syukur dan prasangka baik. Karena, iri dan dengki akan selalu membawa kita pada kesengsaraan, sementara syukur dan baik sangka akan senantiasa menuntun kita pada banyak kebahagiaan. Setidaknya, itulah janji yang disampaikan oleh Tuhan untuk para hambanya.

Ketiga hal tersebut adalah beberapa langkah untuk ditempuh agar kehidupan yang kita jalani menjadi bermakna. Mengenyampingkannya akan membuat jalan hidup tampak indah, namun boleh jadi menjerumuskan kita. Karena sejatinya, perjalanan kehidupan terkadang tak lebih dari mengarungi ruang ketidaktahuan dengan segala kemungkinan yang kapan saja bisa terjadi.

Semoga refleksi hidup kita tahun 2019 atau tahun-tahun yang lalu mampu kita jadikan sebagai pijakan menuju hidup yang di dambakan. Selanjutnya kita maksimalkan setiap detik waktu kehidupan pada 2020 mendatang dengan upaya maksimal menjadikan pribadi ini lebih berarti dari waktu-waktu sebelumnya. “Selamat melepas dan menyambut pergantian tahun”.

Penulis: Dadan Rizwan F.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here