Home Opini GELIAT PASAR ANDIR

GELIAT PASAR ANDIR

420
0

Opini, wartapriangan.com: “Srrrrt… srrrtttt…” begitu lah suara yang akan Anda dengar bila berkunjung ke Pasar Andir pada sore hari, tepatnya di lantai paling atas, di samping masjid. Suara itu berasal dari lakban yang ditarik dan direkatkan oleh para reseller pada berbagai macam bungkusan. Apa isinya? Ada kaos oblong, baju wanita dengan berbagai model, kerudung, kemeja, celana jeans, celana chino, jaket, topi, baju batik hingga perlengkapan bayi.

Keriuhan suasana saat itu persis dengan keriuhan suasana belanja di platform e-commerce. Menurut pantauan bisnis.com, industri dagang-el (e-commerce) tanah air terus menunjukkan tren positif, tercermin dari pertumbuhan transaksi atau Gross Merchandise Value (GMV) yang berhasil dibukukan sejumlah platform. Terdapat tiga platform yang berkembang pesat di Indonesia pada tahun ini. Urutan pertama ditempati Shopee, kemudian Tokopedia, selanjutnya Bukalapak.

Sebenarnya, sampai saat ini belum ada data pasti mengenai dari mana barang yang dijual di platform-platform itu berasal. Namun, jika lokasi pengirimannya dari daerah Bandung, bisa dipastikan sebagian besar barang-barang tersebut berasal dari Pasar Andir. Ya, andir memang terkenal dengan harga yang cukup miring tetapi kualitas tak jauh berbeda dengan barang-barang branded yang harganya melangit .

Sebagaimana yang dilakukan oleh Rizal, seorang reseller pakaian pria di beberapa platform online. Dalam setiap penjualannya, ia mengaku biasa mengambil keuntungan Rp5.000,00 – Rp10.000,00 dari satu pakaian yang berasal dari Pasar Andir. Hingga saat ini pendapatan bersihnya sekitar Rp5.000.000 – Rp10.000.000 per bulan. Tentu pendapatan ini lebih besar dibandingkan dengan gaji bersih pegawai pabrik ataupun Guru PNS dalam setiap bulan nya.

Sekilas, berjualan lewat platform online sungguh menarik dan menggiurkan. Mengingat cara berjualannya cukup mudah, tidak perlu modal besar dan tidak berisiko tinggi. Seorang reseller cukup menjawab pertanyaan pembeli, menerima pesanan, dan membelinya saat sore hari. Bahkan saat ini, para penyedia jasa kirim barang berlomba-lomba memudahkan para reseller tersebut dengan sistem jemput barang dan cashback.

Meski demikian, segala kemudahan yang ia dapatkan tidak begitu saja membuatnya terlena. Ia tetap memiliki cita-cita untuk melebarkan sayap usahanya ke luar negeri.

Urang hayang euy dagang ka luar negeri. Pernah nyobaan ngulik meh nembus platform luar negeri, tapi meni hese. Teu siga barang luar negeri, bahkan adminna ti ditu meni gampang dagang di platform Indonesia, (Saya ingin berjualan ke luar negeri, tapi sulit. Tidak seperti barang luar negeri, bahkan adminnya berasal dari sana yang sangat mudah berjualan di platform Indonesia)” kata pria keturunan Batak yang mahir berbahasa Sunda tersebut.

Selain itu, Rizal juga sempat berbagi keresahannya mengenai harga ongkos kirim dari Tiongkok ke Indonesia yang lebih murah dibandingkan ongkos kirim antarkota di Indonesia.

Coba bayangkeun, ayeuna ongkir (ongkos kirim) Tiongkok ka kabeh kota di Indonesia ngan sapuluh rebu. Contoh, orang Jayapura meuli barang ti Tiongkok, ongkirna Rp10.000 perkilo. Lamun orang Jayapura meuli barang ti Bandung, ongkirna Rp100.000 perkilo. Coba ek kumaha? (Coba bayangkan, sekarang ongkir (ongkos kirim) Tiongkok ke semua kota di Indonesia hanya Rp10.000,00. Contoh, orang Jayapura beli barang dari Tiongkok, ongkirnya Rp10.000,00 perkilo. Jika orang Jayapura beli barang dari Bandung, ongkirnya Rp100.000,00 perkilo. Coba bagaimana?)” tambah bapak dari satu anak ini.           

Sebelum berpamitan pulang, Rizal mengingatkan bagi orang-orang yang ingin mengikuti jejaknya berbisnis lewat platform online harus memiliki sifat konsisten. Tanpa adanya komitmen dan konsistensi yang kuat, usaha apapun tidak akan mendapatkan hasil yang masimal. Bersambung

Penulis: Irfan Iskandar

Editor: (Admin/WP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here