Home Resensi Buku Totto-Chan: Contoh Ideal Merdeka Belajar

Totto-Chan: Contoh Ideal Merdeka Belajar

129
0

Resensi Buku, Wartapriangan.com: Baru-baru ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim melakukan suatu gebrakan dalam dunia pendidikan Indonesia dengan mengeluarkan konsep merdeka belajar. Pengertian merdeka belajar adalah pendidikan harus menciptakan suasana yang membahagiakan. Bahagia buat siapa? bahagia buat guru, bahagia buat peserta didik bahagia buat orang tua (https://mediaindonesia.com).

Pengertian merdeka belajar seperti  yang dijelaskan diatas bisa kita temukan ketika membaca buku Totto-Chan Gadis Cilik di Jendela. Buku ini merupakan buku terjemahan yang memiliki judul asli  Totto-Chan:The Little Girl At The Window. Sampai bulan November 2019, buku ini telah mengalami cetak ulang sebanyak dua puluh tujuh kali.

Buku “Totto-Chan Gadis Cilik Di Jendela” menceritakan kisah seorang murid bernama Totto-Chan yang dikeluarkan dari sekolah saat duduk dibangku kelas satu sekolah dasar. Alasan Totto-Chan dikeluarkan dari sekolah, karena Totto-Chan dianggap nakal oleh gurunya. Guru Totto Chan pun menjelaskan beberapa alasan kepada ibunya kenapa Tottho-Chan dikeluarkan dari sekolah.

Pertama, ketika proses belajar sedang berlangsung Totto-chan sering membuka dan menutup laci mejanya sampai ratusan kali sehingga kelas menjadi berisik. Tentu saja dengan alasan ini tidak cukup untuk mengeluarkan Totto-Chan.

Kedua, selama jam pelajaran Totto-chan selalu berdiri didepan jendela dan berinteraksi dengan orang yang melewati jalan. Kebetulan kelas Totto-chan berada dilantai dasar dekat dengan jalan. Ketika melihat pengamen melewati jalan, Totto-chan menyuruh mereka masuk ke kelasnya untuk memainkan musik, hal ini membuat kegaduhan seisi sekolah.

Terakhir, ketika semua murid menggambar dengan benar bendera Jepang pada pelajaran menggambar, Totto-chan malah menggambar bendera angkatan laut Jepang dengan rumbai-rumbai (Read: Bendera angkatan laut Jepang). Rumbai-rumbai yang digambar Totto-chan ini digoreskan sampai keluar kertas sehingga membuat meja kotor. Dan masalahnya rumbai Totto-chan ini tidak bisa dihapus. Guru itu menjelaskan bukan hanya dia yang kesal kepada Tottho-chan tapi guru yang lainnya juga.

Dari penjelasan alasan yang disampaikan oleh guru tersebut, bisa kita bayangkan bagaimana pusingnya orang tua Totto-chan harus menjelaskan kepada anaknya bahwa ketika dia baru kelas satu sekolah dasar dia sudah dikeluarkan. Kemungkinan besar apabila dijelaskan akan mempengaruhi psikologis anaknya.

Untuk menyelamatkan masa depan anaknya, Ibu Totto-chan tidak menjelaskan alasan kenapa anaknya itu dikeluarkan. Dia hanya mengajak anaknya itu untuk pindah ke sekolah yang baru karena ada sekolah yang sangat bagus. Sebagai anak yang baik, Totto-chan pun merespon ajakan Ibunya dan bersedia untuk pindah ke sekolah baru pilihan ibunya.

Disekolah barunya Totto-chan menemukan hal baru yang tidak dia temukan disekolah lamanya. Disana, ketika pembelajaran dimulai guru akan memberikan daftar semua soal dan pertanyaan mengenai hal-hal yang akan diajarkan hari itu. Kemudian anak-anak bebas memilih akan belajar apa dulu. Murid yang suka menggambar akan langsung memilih menggambar, sementara murid yang suka menulis akan langsung menulis.

Jadi di sekolah ini, dalam satu kelas kita akan menemukan murid-murid dalam satu kelas akan belajar hal-hal berbeda dalam satu waktu. Berbanding terbalik dengan sekolah biasa.  Setelah murid-murid menyelesaikan semua daftar yang disodorkan guru dipagi hari biasanya murid-murid diizinkan untuk keluar kelas. Hal ini dilakukan sebagai hadiah bagi murid-murid yang telah bekerja keras menyelesaikan tugas dari guru.

Disekolah Totto-chan yang baru juga sangat memperhatikan kelemahan yang dialami murid-muridnya. Sebagai contoh di bab kolam renang. Pada hari itu tiba-tiba kepala sekolah Totto-chan memutuskan untuk menyuruh anak-anak berenang karena cuaca panas. Hal yang unik adalah semua anak-anak yang berenang tidak memakai busana alias bugil.

Hal ini tentu saja aneh. Tapi kepala sekolah Totto-chan memiliki alasan menyuruh anak-anak berenang tanpa busana. Menurutnya tidak wajar jika ada orang berusaha matian-matian menyembunyikan tubuh mereka dari orang lain. Kebetulan di sekolah Totto-chan terdapat murid-murid yang mengalami kelainan tubuh. Dengan melakukan renang tanpa busana murid-murid yang mengalami kelainan tubuh pada awalnya malu, tapi perasaan itu segera hilang dan akhirnya mereka menjadi percaya diri akan tubuh mereka.

Mencontoh Sekolah Totto-Chan

Dari setiap bab yang kita baca dari buku ini akan membuat pembaca terkagum-kagum dengan metode belajar yang dilakukan oleh sekolah Totto-chan. Mungkin setelah membaca buku ini kita ingin mengusulkan kepada Mendikbud Nadiem Makarim untuk mewujudkan merdeka dalam belajar “tirulah sekolah Totto-chan”.  

Alasannya sederhana, karena kita dapat melihat bahwa belajar itu menyenangkan bukan menekan. Bahwa seorang guru yang baik bukanlah guru yang hanya menuntut murid untuk meraih nilai yang bagus tetapi dapat mengatasi kukurangan yang dimiliki oleh murid-muridnya. Juga sekolah yang baik bukanlah sekolah yang mengurung muridnya-muridnya dari pagi sampai sore belajar dikelas, namun belajar dapat dilakukan dimana pun.

Buku ini sangat dianjurkan bagi orang-orang yang berkecimpung di dunia pendidikan. Namun kalangan yang tidak berkecimpung di dunia pendidikan pun direkomendasikan membaca buku ini. Membaca buku ini tidak akan membuat kepala jadi pusing karena tidak berisi teori-teori maupun tumpukan opini penulis mengenai pendidikan ideal. Buku ini hanyalah cerita pengalaman penulisnya mengenai masa kecilnya ketika dia sekolah.

Penulis Resensi: (Anggi Muhammad Adha, S.Pd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here