Home Opini Disrupsi dan Urgensi Pendidikan Indonesia

Disrupsi dan Urgensi Pendidikan Indonesia

147
0

OPINI, wartapriangan.com: Persaingan antar negara di dunia saat ini sangat ketat terutama pada sistem perekonomian global yang berdampak pada kehidupan manusia. Budaya literasi merupakan benteng terakhir dampak dari globalisasi ini sehingga ada misi yang harus diselesaikan oleh negera kita agar generasi bangsa Indonesia menjadi generasi unggul, menjungjung tinggi norma adab budaya serta mampu menjadi generasi yang bisa merubah tatanan kehidupan sosial menjadi lebih baik. Apalagi pada era disrupsi ini, kita harus mengetahui makhluk apa dan memiliki karakter apa era disrupsi ini.

Disrupsi dan Revolusi Industri

Perkembangan industri dunia pada era disrupsi ini menumbuhkan kembali budaya kompetisi dan kini dijadikan sebagai tren pada setiap negara-negara pada di seluruh belahan dunia. Teori Disruption ini dipopulerkan oleh dua professor Harvard Business School yaitu Clayton Christensen yang mengemukanan bahwa era disrupsi ini merupakan kelanjutan dari tradisi berpikir “harus berkompetisi, untuk bisa menang (for you to win, you’ve got to make some body lose)” ala Michael Porter. Duet maut profesor tersebut mereka telah mendominasi dunia bisnis dalam 22-37 tahun terakhir. Ada dua teori paling diingat yaitu: Disruptive Innovation (Christensen)dan Competitive Strategy (Porter).

Era disrupsi ini merupakan dampak dari perkembangan revolusi industri 4.0 yang merambah pada sendi-sendi kehidupan manusia pada berbagai bidang. Dua isu ini terus menjadi topik pembahasan publik baik di ruang akademik, seminar juga ruang diskusi dan seakan menjelma menjadi keharusan pada semua orang untuk berpikir tersebut. Apabila ada orang yang tidak berpikir sama mereka kerap memberikan penilaian berbeda sebagai orang yang tidak ingin berpikir maju serta bekembang. Bahkan, cenderung ditakuti apabila tidak mengikuti perkembangan zaman, maka bangsa ini akan dianggap sebagai bangsa yang terbelakang. Doktrinasi ini, kemudian menjadi sebuah tren yang mengarahkan juga menggiring manusia pada hegimoni ekosistem revolusi industri 4.0.

Dipandang dari prespektif budaya hegimoni ekosistem revolusi industri 4.0 ini mampu merubah cara pandang manusia untuk berpikir maju dengan cara kompetisi antar sesama manusia. Awalnya, perkembangan revolusi industri ini masuk pada ekosistem perekonomian, akan tetapi sekarang hegimoni itu masuk pada ekosistem pendidikan yang memaksa untuk merubah tatanan nilai pada diri setiap orang dalam cara pola pelaksanaan pendidikan.

Arus deras tsunami informasi yang telah masuk pada tatanan aktivitas kehidupan menjadi kunci utama, pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan. Pergeseran budaya tradisi lama pada tradisi baru mampu merubah sistem nilai yang terjadi pada struktur sosial kini mengalami perubahan cukup signifikan. Apalagi pada generasi milenial serta generasi z yang dituntut untuk berpikir maju serta membudayakan kompetisi pada setiap bidang untuk mencapai prestasi. Human capital adalah target generasi emas 2045.

Guru besar Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Said Hamid Hasan menerangkan dalam setiap forum akademik, bahwa tidak ada suatu negara hancur lantaran pendidikan matematikanya rendah. Namun, negara akan hancur apabila kesadaran sejarah dan budaya bangsanya rendah. Pernyataan ini pun diperkuat oleh Thomas Lickona seorang pakar pendidikan karakter menegaskan bahwa “Satu tanda kehancuran sebuah bangsa adalah hancurnya akhlak atau karakter generasi mudanya”. Mahatma Gandhi pun pernah mengatakan, “Kualitas karakter adalah satu-satunya faktor penentu derajat seseorang dan bangsa”. Dari pernyataan tersebut ini menandakan, bahwa pendidikan harus dikembalikan pada hakikatnya yang memanusiakan manusia yang memiliki akhlak yang baik serta menjadi manusia yang unggul juara lahir batin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here