Home Opini Jangan dan Harusnya Wartawan

Jangan dan Harusnya Wartawan

116
0

OPINI, wartapriangan.com. Profesi apapun pasti punya job description (jobdes). Kalau di lingkungan pemerintahan dikenal dengan istilah tupoksi, alias tugas pokok dan fungsi. Baik jobdes maupun tupoksi, isinya berupa seperangkat aturan yang melekat dengan profesi tersebut. Ada batasan untuk sebuah profesi. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, bisa dipelajari dalam jobdes tersebut.

Lalu bagaimana dengan profesi wartawan? Kelihatannya enak ya jadi wartawan. Cuma bekal kartu pers saja bisa dapet banyak. Nonton Persib bisa gratis. Nonton band favorit juga bisa gratis. Mau bawa keluarga berenang di Karang Setra juga gratis. Bahkan tak sedikit tempat karaoke dan kafe yang memberikan freecharge access untuk para pemilik presscard.

Enak ya jadi wartawan? Nggak juga. Seperti profesi lainnya, wartawan juga punya aturan. Kalau dirinci, tugas dan kewajiban yang harus diemban wartawan itu banyak, sebanyak larangannya. Tulisan ini mau cerita tiga “jangan” dan “harusnya” wartawan. Maksudnya, tiga hal yang tidak boleh dilakukan wartawan, dan tiga hal yang idealnya harus dilakukan wartawan.

Yang pertama, wartawan itu jangan beropini, wartawan itu harus objektif. Tentunya, larangan beropini ini ketika si wartawan sedang menulis berita. Wartawan dilarang ikut-ikutan menilai, atau memberikan pandangan. Wartawan harus objektif, harus mampu memaparkan informasi sesuai fakta yang sebenarnya. Kalau faktanya ternyata buruk, ya sampaikan buruk. Kalau ternyata baik, ya harus disampaikan baik. Tak perlu turut menilai. Kalau mau menilai, silahkan tulis artikel untuk kolom opini sekenyang-kenyangnya. Tapi kalau berita, harus objektif!

Yang kedua, wartawan itu jangan menerima imbalan. Ini juga terkait berita yang dia tulis. Kenapa tidak boleh? Lagi-lagi, agar beritanya objektif. Media-media massa profesional umumnya berani mencantumkan larangan menerima imbalan dalam boks redaksi mereka. Demi objektifitas berita dan marwah lembaga, harusnya wartawan berani menolak imbalan dalam bentuk apapun. Tapi memang kenyataannya, etika yang satu ini semakin hari semakin pudar. Bahkan tak sedikit oknum wartawan yang justru bertingkah sebaliknya: jualan materi berita. Menyedihkan!

Yang ketiga, wartawan itu harus gemar input, supel dan terus nambah wawasan. Jangan kopeh atau kudet. Menulis itu kan sebenarnya sebuah proses output, maksudnya mengeluarkan apa yang ada di kepala kita. Bagaimana seorang wartawan bisa menulis dengan baik ketika isi kepalanya kosong karena lambat input. Baca jarang, kerjaannya nonton sinetron, gaulnya itu-itu saja. Wartawan jangan begitu! (Slam/SH).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here