Tradisi Ngabuku Taun di Sidamulih Pangandaran dari Kacamata Budaya

0 70

wartaprianga.com, BERITA PANGANDARAN. Tradisi Ngabuku taun kembali digelar warga, di Dusun Citembong, Desa Cikalong, Kecamatan Sidamulih Kabupaten Pangandaran, Rabu (4/9/2019).

Pemerhati Budaya, Deddi Wahyudi, mengatakan Ngabuku taun dilaksanakan pada hari ‘Naas Taun’ menurut perhitungan Pranata Mangsa yang secara tradisi digunakan oleh masyarakat Desa Cikalong yang pada umumnya sebagai petani.

“Naas Taun secara tradisi turun temurun senantiasa dilakukan oleh masyarakat pada setiap tahun pada Bulan Muharram,” ujarnya.

Kebetulan, kata Deddi, pada tahun ini Naas Taun di Desa Cikalong, menurut hitungan Pranata Mangsa/Aboge (istilah masyarakat) pada tahun Wau ini jatuh pada hari Rabu tanggal 3 Muharram atau tanggal 4 September 2019.

“Naas Taun sendiri merupakan hari dimana para petani di Desa Cikalong dalam hari yang sama tidak melakukan aktivitas bertani baik ke sawah maupun ke Ladang atau kebun.” jelas Deddi.

Menurutnya, ini merupakan hari terlarang untuk melakukan aktivitas bertani menurut kepercayaan masyarakat Cikalong pada umumnya.

Atas dasar itulah, kata Deddi, maka kesempatan libur aktivitas bertani itu dipergunakan menjadi hari untuk melakukan “tasyakur bi nikmat” dan menjadi media untuk mempererat silaturakhmi dan gotongroyong antar warga dan pemerintahannya.

Di Desa Cikalong, tambah Deddi, pada umumnya hampir setiap RT memiliki lumbung padi bersama yang mereka sebut sebagai “Lumbung Persatuan”. Dulu sekali dinamakan “Lumbung Paceklik”.

Menurutnya, lumbung ini merupakan sarana tempat membangun kegiatan ekonomi masyarakat secara gotong royong. Dari Lumbung ini pula masyarakat bisa bahu membahu menolong masyarakat yang kekuarangan saat musim paceklik.

Sejalan perjalanan waktu, kata Dia, saat ini lumbung sudah menjadi semacam kegiatan ekonomi yang dijalankan seperti Koperasi tradisional.

Dari kegiatan Simpan Pinjam Padi di Lumbung Persatuan ini, maka lahirah budaya yang disebut “Ngabuku taun”. Ngabuku taun merupakan kegiatan RAT nya masyarakat Cikalong yang pelaksanaannya dilakukan saat hari Naas taun.

Ia menjelaskan, adapun cara berdoa dalam mengungkapkan rasa syukur biasanya dibuka dengan tata cara “Ngijabkeun” semacam preambul biantara dengan cara tradisi turun temurun.

Jika diperhatikan, kata Deddi, dalam mengucapkan istighfar sebelum memaparkan maksud dan tujuan yang jika diperhatikan dengan kaca mata budaya, adalah narasi berisi cerita karuhun masa lalu yang bersumber dari sejarah dan legende.

Ada dua istighfarnya. Satu istighfar sebagai pengakuan atas kesalahan “Pengijab” kepada Allah Yang Maha Alim (Astaghfirullah al ‘Alim) dan permohonan maaf dengan kalimat Astaghfirullah al Adzim.

“Mungkin bagi sementara masyarakat yang hanya melihat secara sekilas dari keyakinannya yang berbeda hal ini akan dianggap aneh,” ujarnya.

Tapi jika dilihat dari kecamata budaya turun temurun yang terus dijaga dan dihidup hidupkan. Hal ini akan menjadi benteng bagi terjaganya peradaban yang saling asih, saling asah dan saling asuh dalam kehidupan masyarakat yang guyub gotong royong.

“Tidak ada Tuhan lain yang diseru dan dimohon pertolongannya pada ritual Naas taun dan Ngabuku taun, selain Allah Yang Maha Esa, Maha Berkehendak, Maha Pengasih dan Maha Penyayang,” papar Deddi

Acara Ngabuku Taun, jelas Deddi, dilaksanakan secara serempak hampir disetiap RW bahkan ada juga yang dilaksanakan dibeberapa RT. Ini bisa menggambarkan bahwa masyarakat Desa Cikalong dalam tradisi bertaninya adalah masyarakat sejahtera secara ekonomi dan masyarakat yang secara arif bisa menjaga tradisinya.

“Semoga Cikalong ke depan bisa mewujudkan cita citanya menjadi Desa Wisata Budaya dan Agro,” harapnya. (Iwan Mulyadi/WP)

(Total dibaca 64 kali. Dibaca hari ini 1 kali)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan