Peristiwa Erupsi Gunung Tangkuban Perahu, Menurut Pandangan K.H Fadlil Yani Ainusyamsi

0 818

wartapriangan.com, BERITA CIAMIS. Bencana alam dapat terjadi kapan saja dan dimana saja tanpa bisa kita mengelaknya. Kemarin, tepatnya hari Jum’at 26 Juli 2019 semua dikejutkan dengan peristiwa Erupsi Gunung Tangkuban Parahu, yang terjadi tanpa dapat prediksi sebelumnya.

“Tanda-tanda bencana itu ada dan lahir karena ulah manusia. Misalnya ketika manusia sudah melupakan kekuasaan Allah, tidak memelihara karunia Allah dengan baik, ketika kekuasaan dianggap keuntungan, ketika orang belajar agama hanya untuk kepentingan dunia, ketika amanat dianggap remeh, dan masih banyak lagi.” Ujar K.H Fadlil Yani Ainusyamsi ketika ditemui di kediamannya di Pondok Pesantren Darussalam Ciamis, Sabtu (27/7/2019) siang tadi

Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam tersebut mengatakan, jelas sekali dalam Q.S Ar-Ruum ayat 41 bahwa bencana alam ini terjadi sebab tangan-tangan manusia, bahkan dalam hadits riwayat tirmidzi disebutkan ‘Waspadalah jika telah sampai pada kita generasi yang orang-orangnya sudah tidak percaya pada nabi, tidak percaya pada para ulama, perintah Allah dan Rasul sudah diabaikan, maka tunggulah kehancurannya.’

“Manusia memang tempatnya salah, tapi tetap dalam setiap manusia memiliki fitrah baik.” terang K.H Fadlil Yani Ainusyamsi atau biasa disapa Ang Icep.

K.H Fadlil Yani Ainusyamsi juga menjelaskan, dari ayat al-qur’an dan hadits tersebut dapat kita lihat pembuktiannya ketika ibadah hanya teriak-teriak, ceramah-ceramah yang menimbulkan permusuhan, dan lain sebagainya.

Dirinya juga menjelaskan, kehidupan keluarga pun berpengaruh terhadap kerusakan alam. Istri atau Suami yang menuntut pasangannya lebih, tak pernah puas dengan apa yang dimiliki itu juga menjadi salah satu pemicu timbulnya jalan pintas, tak peduli cara tersebut diridhoi Allah atau tidak.

Maka lanjutnya, menjaga keharmonisan keluarga adalah langkah ringan yang terbaik menuju kehidupan di dunia lebih baik.

“Seperti halnya erupsi, erupsi itu hawa panas. Jangan dikira alam itu tidak memiliki insting dan kepekaan atas ketentuan-ketentuan Allah. Terjadinya bencana erupsi tersebut dapat berupa peringatan sekaligus hukuman, dan sebagai manusia harus pandai-pandai memetik hikmah juga pelajaran dari peristiwa yang terjadi.” ujarnya lagi.

Dirinya berpesan, sebagai manusia tetaplah bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah. Bersegeralah taqorrub atau mendekatkan diri pada Allah SWT, perbanyak taubat, istighfar.

“Baik sebelum atau sesudah bencana kita harus bertaubat karena kita tidak akan tahu kapan bencana datang. Perbanyak sedekah karena sedekah merupakan salah satu cara menghapus dosa,” tandasnya. (NZ/WP003)

(Total dibaca 790 kali. Dibaca hari ini 1 kali)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan