Ciamis Tempo Dulu, Ciamis Manis hingga Ciamis Selaras

0 261

wartapriangan.com, OPINI. Ciamis tempo dulu menyimpan banyak sekali cerita. Terlebih ketika makna tempo dulu kita kaitkan dengan sejarah yang melekat pada Kerajaan Galuh.

Tak sedikit yang meyakini, masih banyak informasi sejarah penting yang tersembunyi tentang Kerajaan Galuh. Beberapa situs peninggalan sejarah Galuh memang belum pernah dieksplorasi secara serius. Mulai dari beberapa temuan fosil zaman purba yang ditemukan di Kecamatan Tambaksari dan sekitarnya, hingga peninggalan-peninggalan beraroma kerajaan seperti Karang Kamulyan di Kecamatan Cijeungjing, Astana Gede di Kecamatan Kawali, atau museum Bumi Alit yang ada di Imbanagara yang berada di wilayah Kecamatan Ciamis. Informasi-informasi tempo dulu memang masih banyak yang tertutup. Dan untuk sebagian pihak, hal ini kerap terasa seperti menggoda sekali untuk diungkap.

Catatan modern kemudian menetapkan hari jadi Ciamis pada tanggal 12 Juni 1642. Sebagian informasi menyebutkan, penetapan tanggal hari jadi Ciamis tersebut bertepatan dengan momentum perpindahan Ibu Kota Kerajaan Galuh. Awalnya, ibu kota berlokasi di Gara Tengah (sekarang termasuk ke wilayah Cineam, Tasikmalaya) ke Barunay (sekarang Imbanagara).

Namun pada tahun 1916 nama daerah di bagian timur Jawa Barat ini berganti menjadi Ciamis. Sebelumnya, meski ibu kota sudah pindah, tapi masih menggunakan Galuh sebagai nama kabupaten. Penggantian nama Kabupaten Galuh menjadi Kabupaten Ciamis konon dilakukan oleh Rd. Tumenggung Sastrawinata pada 1916.

Entah darimana asalnya, sejak berubah nama menjadi Ciamis, tagline yang begitu melekat dengan kabupaten ini adalah Manjing Dinamis. Dalam berbagai media, baik media massa maupun media indoor dan outdoor, mudah sekali kita temui tagline Manis atau Manjing Dinamis.

Setelah melekat sekian lama, tagline Manis atau Manjing Dinamis pun berubah. Setidaknya dua bupati terakhir memang sudah menyuguhkan tagline baru. Bupati Engkon Komara memilih tagline Ciamis Mantap, dan penerusnya, Bupati Iing Syam Arifin memilih tagline Ciamis Selaras. Dua tagline ini adalah bukti nyata terjadinya dinamika politik.

Entah apakah tagline Ciamis Selaras akan segera berganti lagi ketika kursi pemimpin daerah ini beralih. Yang pasti, akan terjawab sebentar lagi, tepatnya bulan Juni tahun 2018. Di bulan tersebut, akan digelar Pilkada Ciamis, serentak bersama pemilihan ratusan kepala daerah dari Kabupaten/Kota lain se-Indonesia. Kalau kebetulan Bupati Petahana, Iing Syam Arifin menang lagi, sangat mungkin jargon Selaras tidak akan dirubah. Tapi kalau petahana kalah, bukan mustahil tagline baru akan lahir, sesuai selera pimpinan daerahnya.

Sejak jauh-jauh hari, mungkin sekitar 1-2 tahun sebelum pemilihan yang akan digelar bulan Juni 2018, dinamika politik di Ciamis sudah terasa sekali menghangat. Realitas inilah yang kemudian membedakan Ciamis dengan daerah lain yang juga akan menggelar pilkada tahun depan, setidaknya jika dibandingkan dengan Kota Banjar dan Kabupaten Majalengka.

Alat-alat sosialisasi bakal calon  sudah menyebat ke berbagai pelosok sejak tahun 2016. Foto-foto para bakal calon tidak hanya bertengger pada spanduk dan baliho di tepian dan kelokan jalan, foto mereka juga masuk langsung ke rumah dan kamar calon konstituen, mungkin dalam bentuk merchandise khusus atau kalender. Organisasi atau komunitas relawan pendukung bakal calon pun marak didirikan.

Kalau saja makna petahana dinisbahkan pada bakal calon yang sedang memiliki otoritas strategis di pemerintahan, maka bisa dikatakan semua pemegang otoritas paling strategis di Ciamis memang sedang berpacu menuju pilkada 2018. Pasangan Iing Syam Arifin dan Oih Burhanudin dipastikan bakal tetap bertahan. Bupati dan Wakil Bupati yang saat ini sedang menjabat itu kemungkinan besar akan kembali berpaangan pada pilkada yang akan datang. Penantang terkuatnya adalah Herdiat, petahana ketiga yang juga memiliki otoritas kuat di lingkungan pemerintahan, karena yang bersangkutan selama ini menduduki jabatan sekretaris daerah.

Walhasil, karena petahananya bisa dianggap ada tiga orang, panggung politik menjelang pilkada Ciamis kali ini terasa menjadi lebih dinamis dibanding pilkada-pilkada sebelumnya.

Selain urusan pilkada, belakangan ini santri di Ciamis semakin menunjukkan eksistensinya. Aksi fenomenal bela islam bertema 212 yang terjadi beberapa waktu lalu jelas didominasi santri Ciamis. Pemberitaan di media-media massa, baik lokal, nasional bahkan internasional, menyorot aksi heroik para santri tersebut. Dan sampai hari ini, ruh perjuangan itu sepertinya masih tetap bergemuruh di dalam dada para santri alumnus 212.

Ciamis memang gudangnya pesantren. Apalagi sejak Pangandaran belum terpisah, jumlah pesantren di daerah ini jumlahnya melampaui angka seribu. Realitas ini memastikan bahwa daerah ini adalah daerah yang kental dengan nuansa islami. Maka tak heran, selalu ada gejolak ketika muncul perilaku-perilaku mencolok yang bertentangan dengan syariat islam.

Sebut saja misalnya ketika bulan puasa ada beberap orang PNS yang nyemen di sebuah warung. Nyemen adalah istilah yang merujuk pada aktifitas makan di siang hari pada bulan ramadhan. Tak ayal, para PNS itu kemudian digelandang ke pendopo.

Atau sebut saja misalnya peristiwa mantan Bupati Engkon yang ketika itu dikabarkan pernah memasuki areal hiburan karaoke di Tasikmalaya. Peristiwa yang satu ini bahkan sempat menyedot perhatian nasional. Aksi bertubi-tubi dilakukan oleh para santri ketika itu. Mereka tidak berkenan saat pimpinan daerahnya main-main di wilayah karaoke. Mereka tidak ingin pimpinan daerah mereka berdekatan dengan wilayah yang kerap identik dengan kemaksiatan.

Perilaku Ciamis memang harus nyantri, karena memang berbasis kultur santri.

Sejak dilantik pada 2014, Bupati Iing Syam Arifin memilih tagline Ciamis Selaras. Boleh jadi, pemilihan kata selaras didasari oleh pemikiran dan harapan terciptanya sinergitas. Memang sulit rasanya, ketika ingin melakukan percepatan, tanpa dibarengi dengan kesefahaman dan kebersamaan. Semua pihak harus bersinergi, harus bekerjsa sama, bukan sekedar sama-sama bekerja.

Hari ini, akselerasi pembangunan di bawah otoritas Iing Syam Arifin cukup signifikan. Tak bisa dipungkiri memang, ketika hari ini ada hampir 180 KM jalan berkualitas hotmix. Padahal sebelumnya, Ciamis hanya memiliki jalan berkualitas hotmix sepanjang kurang dari 10 km. Peningkatan kualitas jalan milik kabupaten ini tentu saja berpengaruh pada banyak hal.

Percepatan lain yang cukup kentara adalah di bidang kesehatan. Selain adanya penambahan ruang dan sarana di RSUD, hari ini Ciamis juga memiliki belasan puskesmas yang memiliki dukungan layanan rawat inap. Satu rumah sakit milik pemerintah juga sedang dibangun di Kawali. Lalu, kehadiran rumah sakit swasta khusus juga memberi nilai tambah. Rumah sakit khusus tulang di CIjeungjing, dan rumah sakit khusus kanker di Baregbeg.

 

 

loading...
Berita lainnya

Beri komentar

Your email address will not be published.