Mang Nana, Tukang Ojek Tanpa Android yang Terancam Punah

63

wartapriangan.com, BERITA CIAMIS. Namanya Nana, orang di sekitarnya kerap memanggilnya Mang Nana. Usianya sudah memasuki  57 tahun. Lebih dari separuh hidupnya ia habiskan di atas jok motor, sebagai tukang ojek.  Dan, sistem kapitalis dan perkembangan teknologi yang elitis tak lama lagi akan membuat Mang Nana punah dari peredaran.

“Sejak tahun 1980-an saya sudah jadi tukang ojek. Dulu punya motor itu benar-benar bisa jadi modal hidup, tidak seperti sekarang,” terang Mang Nana saat ditemui siang tadi, Jumat (27/10/2017) di Pangkalan ojeg Kertasari, Ciamis. Tempat ia mangkal mengantri rejeki.

Apa yang dimaksud Mang Nana boleh jadi terkait dengan laju pertumbuhan sepeda motor di Indonesia.  Wakil Menteri Perhubungan, Bambang Susantono pernah menyitir data dalam sebuah seminar. Menurutnya, pada rentang 2002-2010 angka pertumbuhan sepeda motor di Indonesia melonjak hingga 300%. Ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah motor ketiga terbanyak di Asia.

“Tahun 2000-an, saya banyak kehilangan pelanggan karena mereka punya motor sendiri. Ketika itu, dengan uang muka Rp. 500 ribu saja sudah bisa punya motor. Tukang ojeknya juga jadi banyak,” terang Mang Nana.

Sebelum tahun 2000, tak kurang dari 20 orang yang sering memanfaatkan jasa Mang Nana sebagai tukang ojek. Mulai dari mengantar belanja ke pasar, antar-jemput anak sekolah, mengangkut padi ke tempat penggilingan, dan lain sebagainya. Penghasilan Mang Nana ketika itu bisa mencapai Rp. 150-300 ribu per hari.

“Penghasilan itu hanya bekerja sampai maghrib. Kalau tidak penting, malam saya tidak narik. Tapi sejak yang punya motor semakin banyak, pelanggan banyak yang berhenti, dapet Rp. 80 ribu sehari juga sudah bagus,” ujar Mang Nana.

Hadirnya kapitalisme dalam wujud perusahaan leasing membuat hidup Mang Nana semakin sulit.

Slider

“Sistem leasing itu jelas kapitalis. Bisnis utama dia kan berbasis pada kekuatan modal. Dia bayar dulu secara kontan ke showroom, lalu unit kendaraan tersebut dijual dengan sistem angsuran. Masyarakat memang jadi mudah dapat motor, tapi dampaknya tukang ojek bisa punah, kepadatan lalu lintas tidak terkendali, begitupun dengan tingkat kecelakan,” papar Djohan, Ketua LSM Badar.

Menurut Djohan, sebenarnya pemerintah sudah berusaha hadir untuk menjaga dampak buruk kapitalisme dengan melahirkan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Fidusia. Regulasi ini bisa menahan jumlah pertumbuhan sepeda motor karena sebenarnya untuk mendapat fasiltias leasing ini ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi. Diantaranya, sepeda motor yang akan dijual dengan sistem leasing seharusnya didaftarkan dulu ke Kantor Penjaminan Fidusia, hingga kemudian terbit sertifikat jaminan fidusia. Harus ada juga perjanjian di depan notaris. Djohan berharap, pemerintah lebih intens hadir dalam permasalahan sosial seperti ini.

“Masalahnya prosedur yang diatur dalam undang-undang tersebut tidak dihiraukan. Akhirnya pertumbuhan sepeda motor tidak terkendali. Pemerintah harusnya melakukan monitoring dan evaluasi terhadap regulasi yanng sudah dilahirkan. Jangan hanya terfokus pada pembangunan infrastruktur, tapi sistem sosial jadi seperti di hutan, yang kuat membinasakan yang lemah,” tegas Djohan.

Kembali ke Mang Nana, yang semakin hari lebih sering duduk di pangkalan ojeknya ketimbang menarik penumpang. Bagaimana tidak, setelah dihantam dampak leasing, kali ini ia terancam dampak teknologi elit berjuluk “Ojek Online”.

Saat ditemui reporter Warta Priangan, ia mencurahkan kegundahannya. Sebuah spanduk yang terpampang di salah satu ruas jalan utama di Ciamis menjadi pemicunya, tepatnya di Jalan Ir. H. Djuanda, Ciamis. Spanduk tersebut berisi pengumuman pembukaan pendaftaran ojek online Ciamis.

“Saya tidak terlalu faham, nanti akan seperti apa jadinya. Tapi rasanya hidup saya akan semakin sulit,” terang Mang Nana.

Ayah dua anak ini memang tidak terlalu faham, seperti apa ojek online dan apa dampak yang bisa berimbas pada ojek konvensional seperti dirinya. Dia juga tak faham apa itu android, terlebih mengoperasikannya. Dan, bukan mustahil banyak Mang Nana – Mang Nana lainnya yang mengalami kegelisahan serupa.

“Pasti banyak ojek konvensional yang tidak bisa berubah jadi ojek online. Kalau pemerintah lupa pada segmen ini, niscaya mereka punah!” pungkas Djohan. (IM/WP)

Slider
Berita lainnya

Beri komentar

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.