Gara-gara Toilet, Warga dan Anggota Dewan Tasikmalaya Adu Mulut!

38

wartapriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Cekcok adu mulut antara ketua komisi I DPRD Kabupaten Tasikmalaya dan perwakilan masyarakat mewarnai audiensi warga terdampak Bendungan Leuwikeris dengan Anggota  DPRD Tasikmalaya,Rabu (04/10/2017) siang. Adu mulut dipicu hal sepele, hanya karena ketua DPRD meninggalkan ruangan untuk ke kamar kecil.

Ketua komisi 1 DPRD Arif Rahman, nampak tak mampu menahan emosi saat Evi Hilman selaku koordinator massa memprotes anggota dewan yang dinilai tidak serius mendengarkan aspirasi warga, saat ketua DPRD meninggalkan ruangan untuk ke kamar kecil sehingga audiensi di skorsing.

Adu mulut antara Ketua Komisi I dengan koordinator massa pun tak terhindarkan, sehingga suasana di ruang audiensi  sempat tegang. Beruntung insiden ini bisa diredam setelah ketua DPRD Kabupaten Tasikmalaya Ruhimat,  mengambil alih suasana dialog yang semakin memanas,dan berhasil menenangkan keduanya.

Kordinator Aksi Evi Hilman mengatakan kepada sejumalh wartawan,dalam audiensi ini warga Desa Ancol Kecamatan Cineam terdampak mega proyek bendungan lewikeris, meminta DPRD Kabupaten Tasikmalaya bisa memediasi dan memfasilitasi mereka dengan instansi terkait agar hak mereka yang direnggut sewenang-wenang oleh pihak tertentu atas ruislah pembelian tanah bisa segera terselesaikan.

Sementara itu, Ketua DPRD Ruhimat mengatakan, pihaknya akan berupaya untuk melakukan koordinasi dengan pihak terkait yang dimaksud masyarakat dan pihaknya juga akan membentuk tim untuk pembahasan dalam upaya penjelasan ke instansi terkait.

Salah satu warga, Kuswara (45) menuturkan, selama tuntutan warga belum terpenuhi tentang keterbukaan proses jual beli tanah selama itu pula masyarakat akan terus menuntut hak dan tidak akan menyerah.

“Meskipun berbagai upaya kami belum berhasil. Tapi kami optimis karena memiliki generasi yang akan datang, “ papar Kuswara.

Kuswara menambahkan, ada beberapa proses yang belum selesai terutama pembebasan lahan. Padahal lahan milik warga yang dijadikan proyek Leuwikeris adalah lahan pertanian. Alhasil warga harus banting setir mencari usaha lain untuk memenuhi kebutuhan hidup. “Dulu hampir seluruh warga bertani karena lahannya masih ada,”ujarnya.

Usai audiensi, perwakilan masyarakat dan anggota dewan ini pun kembali bersalaman,dan bersepakat untuk bersama sama berjuang menyelesaikan permasalahan ganti rugi lahan warga terdampak mega proyek Bendungan Leuwikeris. (Andri/WP)

Slider
Berita lainnya

Beri komentar

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.