Menjadi Relawan Sebenarnya

0 20

wartapriangan.com, INSPIRATIF. Menjelang perhelatan politik seperti pilkada, biasanya relawan menjamur dimana-mana. Umumnya mereka berkelompok, hampir tak pernah ada relawan yang memilih bekerja sendirian. Mungkin mereka semua memahami, “No one can do everything, but everyone can do something”. Dan mereka pun berpadu, membuat nama komunitas yang cantik, lalu aktif melakukan aktifitas branding demi mendongkrak eksistensi komunitasnya. Ini fenomena yang patut diapresiasi, karena setidaknya, ini bukti mereka melek politik.

Ketika seseorang terlibat menjadi relawan, ia menjadi berbeda dengan mereka yang memilih netral, memilih tetap berada di zona nyaman. Si relawan ibarat salah seorang tim yang ikut bermain bola, sementara yang tidak menjadi relawan hanya sekedar penonton belaka. Lebih dari itu, sepintas bisa dimaknai, si relawan sedang terlibat dalam sesuatu yang lebih besar dibanding dengan mereka yang tidak terlibat sebagai relawan. Terlepas di kubu mana ia berada. Apakah di kubu bakal calon pemenang, atau sebaliknya. Yang pasti, dia sudah menjadi bagian dari sebuah dinamika yang besar.

Lalu apa sebenarnya modal utama menjadi relawan? Modalnya hanya satu, yakni memiliki hati. Ya, menjadi relawan tidak mensyaratkan apapun selain hati. Seperti kata Elizabeth Andrews, relawan cukup memiliki hati. Antropolog  asal Alaska yang mendermakan hidupnya untuk program Habitat for Humanity ini yakin sekali, ketika seseorang melakukan sesuatu didasari hati, pasti akan ada realisasi. Dalam kalimat lain ini bermakna, jika mau jadi relawan, harus berangkat dari dorongan hati. Jangan dari dorongan lain, misalnya logika menang-kalah, keuntungan finansial, atau harapan timbal jasa yang berlebihan. Masih berfikir mendapatkan sesuatu saat menjadi relawan? Sebaiknya segera berhenti, jika tidak mau bertemu rasa kecewa.

Relawan sejati itu bukan superhero. Mereka manusia biasa, tapi dengan hati yang luar biasa. Relawan sejati fokus pada langkah, bukan pada upah. Mereka yakin apa yang mereka lakukan adalah kebaikan. Dan kebaikan itu seperti bumerang, selalu kembali pada pemiliknya, ke arah manapun ia berputar. Bahkan, para relawan itu tidak dibayar bukan karena tidak berharga, tapi karena tidak ada harga yang pantas untuk sebuah persembahan yang tulus. Tak ada manusia yang mampu membayar relawan, biarlah Tuhan yang turun tangan.

Menjadi relawan, harus seiring dengan pemahaman dan keyakinan, bahwa sosok yang sedang kita dukung adalah sosok yang bukan hanya baik, tapi memiliki kemampuan untuk menciptakan banyak kebaikan, sosok yang memang layak mendapatkan tumpahan keringat dan tenaga kita. Ketika pemahanan dan keyakinan ini terbangun, maka sebenarnya menjadi relawan itu adalah ibadah. Karena seperti kata nabi, manusia terbaik adalah manusia yang bisa memberikan manfaat kepada manusia lain.

Lalu bagaimana mau bergerak jika tak diberi dukungan finansial? Gampang sekali. Mulailah dari titik dimana kamu berada, gunakan apa yang kamu miliki, dan lakukan apa yang kamu bisa. Selesai!

 

Penulis adalah aktifis/relawan DKiNG (Dulur Kang Iing)

loading...
Berita lainnya

Beri komentar

Your email address will not be published.