Sisa Cerita Gempa Tasikmalaya Tadi Malam, dari Panik sampai Salah Gendong

52

wartapriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Seperti juga bencana alam lain, Gempa bumi selalu menarik perhatian manusia. Selepas kejadian, gempa selalu menjadi buah bibir. Dari mulai obrolan di pos ronda hingga status di media sosial. Semuanya bicara gempa, meski temanya itu-itu saja. Paling ceritanya berputar-putar di pengalaman pribadi masing-masing, lokasi pusat gempa, dan besaran dalam skala richter. Dan, gempa Tasikmalaya tadi malam pun menyisakan cerita.

“Kaca dan lemari di rumah saya berguncang,” terang Agus Dedi, sebagaimana ia tulis dalam komentar berita Warta Priangan. Agus Dedi berada di Cibeureum, Sukamantri, Ciamis.

“Di laut Bojong Salawe, Pangandaran, alarm tsunami sempat berbunyi,” terang akun medsos bernama Abdee.

Selain Priangan Timur, beberapa orang pembaca Warta Priangan dari daerah lain juga turut memberikan komentar. Dari Subang, Bogor, Bandung, Brebes, Majalengka, dan beberapa daerah lainnya. Bahkan melintas ke luar pulau jawa.

“ka Batam aya karaos saalit,” tulis Aris Munandar.

Dari sekian banyak pengalaman pembaca Warta Priangan, ada satu cerita yang lumayan unik. Yaitu yang dialami Riki, seorang ayah yang tinggal di Kertasari, Ciamis.

Slider

Seharian, Riki sudah bekerja cukup lelah. Sejak jam 10 malam, ia sudah berbaring di samping istri dan anak kesayangannya yang berusia balita. Mungkin karena kelelahan, Riki tertidur pulas. Gempa pertama tidak berhasil membangunkan Riki. Padahal, istrinya sudah berusaha setengah menjerit dan membangunkan suaminya. Gempa kedua, semakin membuat istri Riki panik. Teriakannya semakin keras, membangunkan suami tercinta.

Riki pun terbangun, dan mendapati istrinya sedang panik. Satu dua detik ia mencoba memahami apa yang terjadi. Saat sedang berfikir, istrinya kembali berteriak.

“Buru gugah, gempa! Pangku si Neng! Pangku enggal!” (Cepat bangun, gempa! Gendong si Neng, cepat gendong! –Ind). Istrinya meminta Riki segera bangun dan menggendong anak semata wayang mereka yang juga terbangun dan ketakutan.

Mungkin karena kaget dan lulungu (belum sadar benar saat bangun tidur), Riki tersentak, bangun dan malah berusaha menggendong istrinya. Tentu saja istrinya berusaha menghindar dan menolak.

“Lain abi! Itu si Neng pangku!”

Beberapa saat kemudian Riki baru sadar benar. Kedua tangannya masih setengah merangkul istrinya yang berusaha menghindar.

“Alhamdulillah sudah nggak gempa,” kata Riki, seraya mengusap kepala anak semata wayangnya.

 

Slider
Berita lainnya

Beri komentar

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.