Sembilan Belas Tahun Lumpuh, Remaja Malang di Pangandaran Butuh Uluran Tangan

0 36

wartapriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Rizqi Wahyu Dania (19) tergolek lemah tak berdaya, akibat sakit keropos tulang yang dideritanya, pemuda malang ini mengalami kelumpuhan. Bahkan untuk bangkit, atau sekedar duduk dia tak mampu.

Hari-harinya dihabiskan di sebuah bangku kayu panjang. Terkadang oleh Ayahnya didudukan agar tidak kepanasan punggungnya. Namun karena tidak mampu menopang berat tubuh terpaksa dirinya diikat menggunakan kain. Wajar pula jika pantatnya mengeras karena bertahun-tahun dalam kondisi seperti itu.

Warso Susanto ayah Rizqi, warga Dusun Cikulu RT 3 RW 3 Desa Sukahurip Kecamatan Pangandaran, kepada Warta Priangan Kamis (13/4) mengatakan, anaknya sakit sejak usia 2,5 tahun. Saat diangkat usai dimandikan tulang kakinya patah tanpa sengaja, karena ternyata tulangnya hingga kini rapuh.

“Selanjutnya anak saya dibawa berobat dipengobatan tradisional “Sangkal Putung”. Alhamdulillah tulangnya tersambung lagi. Namun sejak itu anak saya tak dapat jalan lagi hingga kini,” paparnya.

Belasan tahun dirinya tabah dan telaten merawat anaknya. Sambil merawat Orang tua dan Isterinya yang juga sakit-sakitan hingga keduanya meninggal dunia.

“Ibunya Rizqi (Isterinya -Red) meninggal 2 bulan lalu karena sakit jantung. Jadi sekarang saya tinggal merawat anak,” ujarnya berkaca-kaca.

Namun kesulitan belum berlalu. Dengan kondisi anaknya seperti itu, dirinya sangat kesulitan mencari nafkah. Karena khawatir meninggalkan Rizqi terlalu lama.

“Beberapa waktu lalu dia pernah lalai, anak saya sudah terjatuh di lantai. Makanya sekarang terpaksa diikat kain saat ditinggalkan beraktifitas,” kata Warso, yang juga ketua RT setempat.

Hal itulah mengapa dia tak dapat bekerja dan beraktifitas seperti orang lain termasuk dalam mencari nafkah. Apalagi kondisi anaknya saat ini makin memburuk. Bicaranya tidak jelas artikulasinya dan kerap mengalami kejang-kejang serta menangis.

“Kekurangan ekonomi pasti. Lihat saja kondisi rumah, sudah retak-retak hingga dikhawatirkan sewaktu-waktu bisa roboh. Apalagi sekarang sering terjadi gempa. Namun saya tak mampu memperbaikinya. Bisa makan saja saya sudah bersyukur,” ujarnya.

Kini dirinya berharap ada yang mau mengulurkan tangan, membelikan ranjang pasien. Agar anaknya dapat rebahan, bersender, dan tidak khawatir terguling, saat ditinggalkan beraktifitas. (Iwan Mulyadi/WP)

loading...
Berita lainnya

Beri komentar

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.