Bertaruh Nyawa, Nasib Penyadap Nira di Pangandaran Jadi Sapi Perahan!

0 32

wartapriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Manisnya gula kelapa yang dinikmati masyarakat menyimpan perjuangan para penyadap nira kelapa. Tak jarang mereka harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.

Seperti halnya yang dialami almarhum Ihli warga Dusun Cihandiwung 2/3 Desa Sukahurip Kecamatan Pangandaran. Dirinya meninggal lima hari yang lalu karena terjatuh dari pohon setinggi belasan meter saat menyadap nira kelapa.

Almarhum meninggalkan istri dan seorang anak yang masih kecil dan hanya mewariskan sebuah gubuk berdinding bilik bambu dan berlantai tanah.

Saat almarhum masih hidup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya, biasanya baik uang maupun kebutuhan pangan mengutang dulu kepada pengepul gula atau ranting.

Maka sudah menjadi rahasia umum, saat penyadap nira meninggal, mereka meninggalkan piutang kepada pengepul.

Ironisnya baik pengepul maupun bandar besar jangankan memberikan uang duka, bahkan terkadang piutang almarhum masih ditagih kepada ahli waris.

Nasib serupa juga menimpa Sanda (62) yang jatuh dari pohon kelapa saat menyadap nira, lima belas tahun yang lalu.

Warga Dusun Bengkekan 4/3 Desa Sukahurip Kecamatan Pangandaran ini, kini menjadi cacat permanen dan tak lagi dapat mencari nafkah. Padahal dirinya harus menghidupi istri dan anak-anaknya.

Kasi Kesra Desa Sukahurip Toha mengatakan, nasib penyadap nira memang seperti sapi perahan. Dibutuhkan hanya saat dirinya sehat dan produktif. Tak ada asuransi jiwa atau perlindungan dari para pengepul atau bandar.

Menurutnya, saat mendapat kecelakaan yang mengakibatkan cacat atau bahkan meninggal, mereka diabaikan. Jasa mereka yang telah memberikan keuntungan setiap hari kepada para pengepul maupun bandar, dilupakan begitu saja.

“Perlu diingat mereka telah memberikan keuntungan kepada para pengepul dan bandar. Jerih payah mereka menantang maut setiap hari tolong dihargai. Bahkan untuk membeli kain kafan, warga berpatungan karena keluarga almarhum tak mampu membeli,”pungkasnya. (Iwan Mulyadi/WP)

loading...
Berita lainnya

Beri komentar

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.