Keren! Manisnya Gula Semut Pangandaran Sudah Sampai Jepang dan Eropa

0 39

wartapriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Ada Gula ada Semut, pepatah itu tak asing kita dengar, tapi bagaimana dengan Gula Semut? Mungkin ada yang baru mendengarnya.

Gula semut adalah varian gula yang bahan dasarnya sama dengan gula merah, hanya saja melewati satu proses berbeda untuk menjadi gula semut (kita sering menyebutnya Gula Cristal).

Gula semut (Gula Cristal) saat ini terus dikembangkan oleh BDC (Business Development Center Kabupaten Pangandaran dengan memberikan pembinaan masyarakat melalui pelatihan-pelatihan produksi dan managemen usahanya.

An an Ramdani selaku Manager BDC Pangandaran menjelaskan, untuk pilot project pihaknya melakukan pelatihan ditiga desa, khususnya di Kecamatan Pangandaran sebagai penyangga parawisata Kabupaten Pangandaran.

“Kami lakukan pemberian pelatihan dan pemahaman manfaat apabila pembuatan gula tidak menggunakan bahan kimia, pengambilan air nira yang biasanya satu (1) kali sehari sebaiknya dilakukan dua (2) sampai dengan tiga (3) kali karena karakter air nira bertahan hanya 4 sampai dengan 5 jam. Setelah itu tingkat keasamannya menguat yang akhirnya menjadi tak bisa diproduksi (asam/basi) gula ataupun gula semut,” ujarnya.

Selanjutnya tambah An an menjelaskan, dalam sepuluh bulan terakhir ini pihaknya melakukan kerjasama dengan teman arsitek desain untuk membuat kemasan yang menarik dan diminati pasar. Pengemasan yang baik salah satu syarat untuk meningkatkan pemasaran.

“Seiring meluasnya pasar dan meningkatnya keuntungan, makin banyak pula perajin gula yang bergabung dalam produksi gula semut. Dari awalnya hanya 54 orang, kini menembus 140 orang di Kecamatan Pangandaran. Kapasitas produksi pun sudah mencapai 8-10 ton per bulan,” ujarnya.

Saat ini, lanjutnya, dari kapasitas produksi itu, rata-rata 3 ton di antaranya diperuntukkan bagi pasar Jepang dan Eropa, meski proses penjualannya masih melalui perantara eksportir pihak kedua.

“Gula semut (cristal ini) rasanya khas, tak jauh berbeda dengan manis gula merah tapi sedikit rasa caramel, tapi lebih lembut. Dengan kadar air yang lebih rendah dan tidak boleh lebih dari 2% sampai dengan 5% menjadikan gula semut tahan lama hingga 2 tahun,” paparnya.

Sementara itu Ketua Komite BDC Pangandaran, Teddy  juga selaku Ketua KADIN Pangandaran mengatakan, saat ini BDC Pangandaran sebagai fasilitator masyarakat dalam mengembangkan produk gula semut sedang berupaya untuk mendapatkan berbagai sertifikasi supaya gula semut yang dihasilkan lebih berkualitas dan memiliki nilai jual yang tinggi.

“Mulai bulan depan kita kosentrasi ke pengembangan produk turunan sekaligus didesain kemasan, karena salah satu kendala yang dihadapi UMKM dalam memasarkan produknya adalah kemasan yang kurang menarik. Hal ini kurang disadari oleh sebagian besar pelaku UMKM khususnya di Pangandaran. Rata rata mereka belum memerhatikan kemasan,” jelasnya.

Akibatnya lanjut Teddy, sejumlah produk yang sebenarnya memiliki nilai jual tinggi dan berkualitas menjadi tidak laku di pasaran. Kendala lainnya adalah pelaku UMKM tidak mengetahui harus kemana jika ingin membuat kemasan dan tidak adanya unit usaha yang melayani pembelian kemasan dalam partai kecil.

“Selain itu sangat sulit meyakinkan UMKM bahwa kemasan yang baik dan kreatif bisa meningkatkan keuntungan yang lumayan, nah di sini lah pungsi kami KADIN Pangandaran sebagai wadah dan wahana komunikasi, informasi, representasi, konsultasi, fasilitasi memberikan mendorong tumbuh berkembangnya kewirausahaan dan wirausaha baru serta mengembangkan bisnis memberikan kontribusi kepada pemerintah dan bersama pemeritah,” pungkasnya. (Iwan Mulyadi/WP)

loading...
Berita lainnya

Beri komentar

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.